Wednesday, 6 August 2014

Ayo Hidup Lebih Sehat Dengan Langkah Sederhana Ini


Orang miskin dilarang sakit!
Sering pameo ini dilontarkan manakala kita menyadari bahwa semakin lama biaya yang dikeluarkan saat kita jatuh sakit semakin mencekik leher. Jangankan untuk golongan menengah ke bawah yang merasa keberatan, kaum berada pun akan berpikir ulang jika harus merogoh kocek dalam-dalam untuk biaya rumah sakit. Padahal jika kita mampu melihat segala sesuatu dengan lebih positif, hidup sehat bisa dimulai dari kebiasaan-kebiasaan sehat. Latih kebiasaan kecil ini setiap waktu, kita akan memetik hasil besarnya bagi kesehatan di kemudian hari. Berikut langkahnya sebagaimana dikutip dari www.kompas.com

Sarapan setiap pagi
Up grade : pastikan agar sarapan itu mengandung tiga jenis makanan
Usahakan agar sarapan terdiri dari susu, sumber karbohidrat dan buah atau protein. Menurut Therese O’Sullivan dari Telethon Institute for Child Health Research di Perth remaja yang makan tiga jenis makanan itu di waktu sarapan memiliki skor kesehatan mental yang lebih baik.
 
Minum teh hijau
Up grade : tambahkan potongan buah lemon. Percobaan di University of Arizona menemukan orang yang minum teh dengan potongan lemon mengalami pengurangan risiko kanker kulit hingga lebih dari 70 persen.
 
Jalan kaki setiap pagi
Up grade : lepas sepatu. Berjalan tanpa sepatu mengenalkan kaki pada permukaan tanah dan suhu yang berbeda. Ini akan mengaktifkan sensor refleksologi di kaki yang akan menyeimbangkan kesehatan tubuh. Pilih permukaan tanah seperti pasir pantai atau halaman rumput.
 
Cuci tangan dengan sabun lima kali sehari
Up grade : keringkan hanya dengan lap atau tisu. Mencuci tangan dengan sabun terbukti melindungi kita dari risiko infeksi hingga 45 persen. Tapi mengeringkan tangan dengan mesin pengering membuat jerih payah cuci tangan jadi sia-sia. Menurut penelitian University of Westminster Inggris, 95 persen mesin pengering tangan mengandung bakteri yang justru mendatangkan bakteri di telapak tangan bersih

Tuesday, 5 August 2014

Silent Marketing

Setelah sebelumnya saya mengunggah artikel dari www.kampungwirausaha.com tentang Reseller dan Dropshipper, sekarang saya kembali mengunggah artikel lainnya tentang Silent Marketing yang masih berhubungan dengan artikel saya Marketing Jalan Ditutup. Berikut kutipan artikelnya:



Ssttt..! Marketing Bisu
“Pak, apakah orang yang pendiam seperti saya bisa jadi marketer hebat?”, tanya seseorang kepada saya.
Jujur pertanyaan ini menggelitik. Betapa tidak, bagi sebagian besar customer, marketer (sales) punya sisi gelaptersendiri, yaitu : talking too much and full of shit sometimes.
marketing jujur, dan tak harus banyak bicara
Janji surga, kalau sudah laku dan capai target, langsung ngilang lenyap tak ketahuan rimbanya. Hahaha..tunggu, jangan tersinggung dulu..karena salah satu profesi saya adalah marketer. Dan stigma itu..seringkali masih melekat erat di jidat kita, mungkin karena itulah maka saya seringkali menggunakan jurus : marketing bisu.
Maksudnya gini, bukan sama sekali tidak bicara, tapi mengurangi bicara kita hingga 75%..! Apa mungkin? Sangat mungkin!
Pernah terkesan akan penampilan unik seseorang setiap bertemu? Nah itu silent marketing. Pernah mendapat sesuatu lewat tulisan seseorang di facebook atau milis? Nah itu juga silent marketing. Pernah terngiang-ngiang komentar singkat yang diucapkan dengan nada suara + dialek seseorang? Itupun silent marketing.
Membawa seekor German Shepperd (doggie) kesayangan jalan-jalan keliling kompleks sehari 2 kali, memelihara ayam ketawa di rumah sebagai maskot, update status di BB, upload video di youtube…dan sebagainya dan seterusnya…semuanya ternyata punya DAYA JANGKAU yang tidak dapat diremehkan.
Adalah seorang Lawrence Chan, seorang photographer dan juga marketer menuliskan sesuatu yang sangat inspiratif : Silent gratitude isn’t much use to anyone, so thank someone today. Since this is a marketing strategy blog, social media can play a huge role in the recognition of gratitude. A simple tag, @reply or etc. can be seen by the public..
FAKTANYA menjadi seorang marketer yang hebat –dijaman gadget seperti sekarang- tidak diperlukan banyak  omong.
Sebuah artikel misalnya, hanya sekali tekan enter…sampailah ia di Amrik. Suara seorang marketer (sekalipun berteriak)..mungkin sudah tak terdengar di tikungan kompleks.
Seorang berpakaian merah diantara kumpulan mereka yang berpakaian biru, seorang gondrong diantara orang-orang gundul..dalam istilah fotografinya..tentunya sangat ‘STAND OUT’ dari background. Demikian juga seorang marketer pendiam, diantara para marketer yang berkicau.
“Dia itu gak banyak omong, tapi tanggung jawabnya bisa diadu..!”
Komentar seperti itu tentu sangat jauh lebih berarti dibanding : “Jangan percaya dia. Lebay! Ngomongnya selangit, janji surga doang..!”
Bahkan pada titik tertentu, kita akan sadar bahwa skill utama yang sangat kritikal bagi seorang marketer bukan bicara, tapi keahlian dalam MENDENGARKAN client. 

Oleh : Made Teddy Artiana, S. Kom
Chief of Marketing Kairos System & Tecnology

Thursday, 24 July 2014

SELAMAT HARI RAYA IDUL FITRI 1435 H

SELAMAT HARI RAYA IDUL FITRI 1435 H

(foto: keepcalm-o-matic.co.uk)

Bromelain Dalam Nanas, Harapan Baru Bagi Pasien Kanker



(sumber:rawforbeauty.com)

Selain Cannabis, kandungan enzim bromelain dalam buah nanas ternyata dapat menjadi harapan baru pengobatan alternatif bagi pasien kanker. Sebuah studi yang diterbitkan dalam jurnal Planta Medica pada Tahun 2007 menemukan bahwa enzim yang diekstrak pada batang nanas yang banyak dikenal sebagai bromelain memiliki kecenderungan superior terhadap chemo-agent 5-fluorauracil (5-FU) dalam penanganan sel kanker pada binatang. Yang menarik dari pernyataan ini adalah bahwa 5-FU telah hampir 40 tahun digunakan sebagai pelawan sel kanker namun seringkali menunjupasien, kkan hasil yang kurang memuaskan diantaranya gagal membedakan antara sel sakit dan sel sehat sampai merusak jaringan sel. Perlu dicatat bahwa pemberian dosis 7,5 gram 5-FU kepada manusia bisa membunuh 50% diantaranya. Jadi kesempatan hidup penderita kanker yang diberi treatment 5-FU hanya 50% saja. Bandingkan dengan efektivitas bromelain yang 100 kali lebih kuat dan lebih aman daripada 5-FU!

Lalu bagaimana bisa sesuatu yang sederhana dan 'tidak berbahaya' seperti batang nanas bisa mengungguli obat mahal yang menjadi tumpuan pasien kanker selama 40 tahun?

Bahan-bahan kimia tidak mempunyai perilaku seperti senyawa alami yang bisa menginduksi sel-sel kanker tanpa mengganggu sel-sel dan jaringan tubuh yang sehat. Jika bergantung pada bahan kimia, pengobatan kanker masih akan tetap berada di 'zaman kegelapan', merusak kualitas hidup, bahkan mempercepat kematian pasien. Namun demikian apabila terjadi kegagalan pada perawatan menggunakan 5-FU, akan dengan mudah menyalahkan pada kondisi pasien dengan menyatakan bahwa pasien resisten ataupun agresif terhadap kemoterapi, padahal pada kenyataannya ketidakmampuan 5-FU untuk menyeleksi kondisi sel secara alami yang menggiring pasien pada kematian. Sebaliknya bromelain, sebagaimana bahan natural lainnya mempunyai kemampuan alami untuk menyeleksi sel sakit dan sel sehat sehingga lebih aman bagi pasien. Sekarang tergantung bagi kita untuk menggantungkan kesehatan kita pada bahan alami atau bahan kimia berbahaya. Pineapple enzyme kills cancer without killing you.

Tuesday, 22 July 2014

Jus Nanas Untuk Mengatasi Batuk

Saya penasaran dengan kalimat yang saya baca melalui salah satu blog yang menyatakan bahwa jus nanas efektif untuk mengatasi batuk. Saat browsing tentang hal itu, ternyata saya juga menemukan artikel yang menyebutkan bahwa enzim bromelain juga berfungsi sebagai antikanker. Ternyata semakin menarik untuk mengupas kandungan buah nanas bagi kesehatan manusia, berikut kutipannya:

(foto: asiancancer.com)


Nanas banyak mengandung enzim bromelain, suatu enzim dengan sifat anti - inflamasi. Enzim ini diketahui dapat digunakan untuk melawan infeksi dan membunuh bakteri. Jus yang terbuat dari nanas segar dapat menekan batuk lima kali lebih efektif daripada obat batuk sirup.

Satu cangkir jus nanas mengandung hampir 50% kebutuhan harian untuk asupan vitamin C. Nutrisi yang bermanfaat ini bekerja untuk memperlancar penggunaan enzim penting dalam tubuh yang mengatur metabolisme dan pertukaran energi .

Jus nanas juga mengandung mangan tingkat tinggi,  mineral yang sangat membantu pembentukan tulang dan jaringan ikat yang sehat. Mangan berfungsi untuk menyerap kalsium yang banyak, melakukan metabolisme karbohidrat dan lemak, dan meningkatkan fungsi saraf pada umumnya.

Jika Anda mengalami batuk persisten dan bukan karena sesuatu yang serius seperti pneumonia, maka Anda bisa menggunakan jus nanas sebagai sirup obat batuk alami. Jus nanas jelas lebih murah, tidak mengandung bahan kimia beracun dan justru berisi nutrisi yang akan membantu melawan pilek.

Minum jus nanas membantu meredakan sakit tenggorokan dan membantu tubuh untuk mengeluarkan lendir dengan mudah.  Lendir yang banyak dan susah dikeluarkan dari dalam paru-paru atau sinus dapat menyebabkan batuk, bersin dan infeksi yang bisa berujung pada hal parah seperti kejang-kejang.

Dalam sebuah penelitian yang diterbitkan dalam "Der Pharma Chemica" pada tahun 2010, para peneliti berusaha untuk menemukan pengobatan bermanfaat bagi pasien yang memiliki penyakit TBC, penyakit menular yang disebabkan oleh Mycobacterium tuberculosis. Penelitian mereka menemukan bahwa campuran jus nanas, merica, garam dan madu yang diberikan kepada pasien setiap hari membantu untuk melarutkan lendir di dalam paru-paru mereka.

Pada penelitian selanjutnya, peneliti menemukan bahwa ekstrak nanas dapat menurunkan lendir lima kali lebih cepat dari obat batuk biasa. Pasien pulih 4,8 kali lebih cepat dan memperlihatkan penurunan semua gejala yang berhubungan dengan batuk, terutama batuk-batuk kecil yang sering.

Berikut ini adalah salah satu resep juice nanas  penghilang batuk yang disarankan oleh Karen Foster seorang ahli gizi holistik; Untuk ramuan jus nanas ini sebaiknya tidak perlu tambahan gula, jadi cukup dengan rasa manis alami nanas dan hindari menggunakan nanas yang diawetkan dalam kaleng. Sebaiknya gunakan nanas segar yang bisa anda beli di pasar buah atau toko buah.

Bahan yang perlu Anda siapkan

- 1 cangkir jus nanas segar
- 1/4 cangkir jus lemon segar
- 1 buah jahe (sekitar 3 inci)
- 1 sdm madu
- 1/2 sdt merica

Campurkan semua bahan dan aduk sampai rata. Cukup minum 1/4 cangkir ramuan tadi 2 sampai 3 kali sehari.  Ulangi minum campuran jus nanas tadi setiap hari.

(Sumber : iwansetiawan.com)




Every once in a while a study pops up on the National Library of Medicine’s bibliographic database known as MEDLINE that not only confirms the therapeutic relevance of natural substances in cancer treatment, but blows the conventional approach out of the water. Published in 2007 in the journal Planta Medica, researchers found that an enzyme extracted from pineapple stems known as bromelain was superior to the chemo-agent 5-fluorauracil in treating cancer in the animal model. The researchers stated:
“This antitumoral effect [bromelain] was superior to that of 5-FU [5-fluorouracil], whose survival index was approximately 263 %, relative to the untreated control.”
220px-Pineapple_and_cross_s
What is so remarkable about this research is that 5-FU has been used as a cancer treatment for nearly 40 years, and has been relatively unsuccessful due to its less than perfect selectivity at killing cancer, often killing and/or irreversibly damaging healthy cells and tissue, as well.
As a highly toxic, fluoride-bound form of the nucleic acid uracil, a normal component of RNA, the drug is supposed to work by tricking more rapidly dividing cells — which include both cancer and healthy intestinal, hair follicle, and immune cells — into taking it up, thereby inhibiting (read: poisoning) RNA replication enzymes and RNA synthesis.
The material safety data sheet (MSDS) for 5-FU states:
5fu
The dose at which 50% of the animals given the drug die is 115mg/kg, or the equivalent of 7.8 grams for a 150 lb adult human.
22
Keep in mind that a 7.5 gram dose of 5-FU, which is the weight of 3 pennies, would kill 50% of the humans given it. Bromelain’s MSDS, on the other hand, states the LD50 to be 10,000 mg/kg, or the equivalent 1.5 lbs of bromelain for a 150lb adult, which means it is 3 orders of magnitude safer!
How then, can something as innocuous as the enzyme from the stem/core of a pineapple be superior to a drug that millions of cancers patients over the past 40 years have placed their hopes of recovery on, as well as exchanging billions of dollars for?
There is a well-known effect associated with a wide range of natural compounds called “selective cytotoxicity,” whereby they are able to induce programmed cell death (the graceful self-disassembly known as apoptosis) within the cancer cells, while leaving healthy cells and tissue unharmed. No FDA-approved chemotherapy drug on the market today has this indispensable property (because chemicals don’t have behave like natural compounds), which is why cancer treatment is still in the dark ages, often destroying the quality of life, and accelerating the death of those who undergo it, often unwittingly. When a person dies following conventional cancer treatment it is all too easy to “blame the victim” and simply write that patient’s cancer off as “chemo-resistant,” or “exceptionally aggressive,” when in fact the non-selective nature of the chemotoxic agent is what ultimately lead to their death.
Keep in mind that bromelain, like all natural substances, will never receive FDA drug approval. Capital, at the present time, does not flow into the development of non-patentable (i.e. non-profitable) cancer therapies, even if they work, are safe and extremely affordable. This is simply the nature of the beast. Until we compel our government to utilize our tax dollars to invest in this type of research, there will be no level playing field in cancer treatment, or any treatment offered through the conventional medical establishment, for that matter. Or, some of us may decide to take our health into our own hands, and use the research, already freely available on possible natural cancer treatment, to inform our treatment decisions without the guidance of the modern day equivalent of the “priest” of the body, the conventional oncologist, who increasingly fills the description of an “applied pharmacologist/toxicologist” – nothing more, nothing less.
SOURCE - http://www.greenmedinfo.com
- See more at: http://rawforbeauty.com/blog/research-pineapple-enzyme-kills-cancer-without-killing-you.html#sthash.b5r6ExS5.dpuf
Every once in a while a study pops up on the National Library of Medicine’s bibliographic database known as MEDLINE that not only confirms the therapeutic relevance of natural substances in cancer treatment, but blows the conventional approach out of the water. Published in 2007 in the journal Planta Medica, researchers found that an enzyme extracted from pineapple stems known as bromelain was superior to the chemo-agent 5-fluorauracil in treating cancer in the animal model. The researchers stated:
“This antitumoral effect [bromelain] was superior to that of 5-FU [5-fluorouracil], whose survival index was approximately 263 %, relative to the untreated control.”
220px-Pineapple_and_cross_s
What is so remarkable about this research is that 5-FU has been used as a cancer treatment for nearly 40 years, and has been relatively unsuccessful due to its less than perfect selectivity at killing cancer, often killing and/or irreversibly damaging healthy cells and tissue, as well.
As a highly toxic, fluoride-bound form of the nucleic acid uracil, a normal component of RNA, the drug is supposed to work by tricking more rapidly dividing cells — which include both cancer and healthy intestinal, hair follicle, and immune cells — into taking it up, thereby inhibiting (read: poisoning) RNA replication enzymes and RNA synthesis.
The material safety data sheet (MSDS) for 5-FU states:
5fu
The dose at which 50% of the animals given the drug die is 115mg/kg, or the equivalent of 7.8 grams for a 150 lb adult human.
22
Keep in mind that a 7.5 gram dose of 5-FU, which is the weight of 3 pennies, would kill 50% of the humans given it. Bromelain’s MSDS, on the other hand, states the LD50 to be 10,000 mg/kg, or the equivalent 1.5 lbs of bromelain for a 150lb adult, which means it is 3 orders of magnitude safer!
How then, can something as innocuous as the enzyme from the stem/core of a pineapple be superior to a drug that millions of cancers patients over the past 40 years have placed their hopes of recovery on, as well as exchanging billions of dollars for?
There is a well-known effect associated with a wide range of natural compounds called “selective cytotoxicity,” whereby they are able to induce programmed cell death (the graceful self-disassembly known as apoptosis) within the cancer cells, while leaving healthy cells and tissue unharmed. No FDA-approved chemotherapy drug on the market today has this indispensable property (because chemicals don’t have behave like natural compounds), which is why cancer treatment is still in the dark ages, often destroying the quality of life, and accelerating the death of those who undergo it, often unwittingly. When a person dies following conventional cancer treatment it is all too easy to “blame the victim” and simply write that patient’s cancer off as “chemo-resistant,” or “exceptionally aggressive,” when in fact the non-selective nature of the chemotoxic agent is what ultimately lead to their death.
Keep in mind that bromelain, like all natural substances, will never receive FDA drug approval. Capital, at the present time, does not flow into the development of non-patentable (i.e. non-profitable) cancer therapies, even if they work, are safe and extremely affordable. This is simply the nature of the beast. Until we compel our government to utilize our tax dollars to invest in this type of research, there will be no level playing field in cancer treatment, or any treatment offered through the conventional medical establishment, for that matter. Or, some of us may decide to take our health into our own hands, and use the research, already freely available on possible natural cancer treatment, to inform our treatment decisions without the guidance of the modern day equivalent of the “priest” of the body, the conventional oncologist, who increasingly fills the description of an “applied pharmacologist/toxicologist” – nothing more, nothing less.
SOURCE - http://www.greenmedinfo.com
- See more at: http://rawforbeauty.com/blog/research-pineapple-enzyme-kills-cancer-without-killing-you.html#sthash.b5r6ExS5.dpuf

Reseller dan Dropshipper

Saya selalu suka artikel-artikel yang ditulis dan atau dimuat oleh 'Pak Lurah' di kampungwirausaha.com, menurut saya artikel yang ditulis sangat menginspirasi dan mudah dipahami, bahkan oleh orang yang awam di bidang wirausaha. Berikut adalah salah satu artikel terbaru yang dimuat mengenai reseller dan dropshipper, yang akan menjadi pembuka bagi artikel-artikel oleh kampungwirausaha.com lain di masa mendatang.

PANDUAN WIRAUSAHA ONLINE: DROPSHIPPER JARANG JADI MILYARDER, KECUALI...

(foto: bebekmegol.com)

Sudah tahu kan beda dropshipper dengan reseller?

Inti dasarnya adalah: reseller simpan stok dropshipper gak. Biasanya dropshipper adalah kepanjangan tangan dari reseller. Mereka bertugas menjadi ‘buzzer gratis’, alias bayar kalo laku.

Dropshipper banyak kita jumpai di social media dan aplikasi chat. “<< Minat..? PM ya sis..”


Ada alasan dropshipper tak menyimpan stok, selain emang gak modal, varian produk atau ukuran sangat banyak. Riskan…!

Yang mau saya bicarakan adalah “Kenapa dropshipper jarang mencapai omzet ratusan juta perbulan atau miliaran pertahun..?”.

Coba analisa mindset ini..

Pertama, kebanyakan dropshipper melakukan penjualan “Nothing To Lose”, alias gak ada resiko kalo gak terjual. Toh gak nyimpan stok.

Kedua, kebanyakan dropshipper juga melakukan pekerjaan tersebut sebagai ‘sambilan’, bukan profesi yang menggantungkan income dari situ.

Ketiga: kebanyakan dropshipper tak fokus dalam menjual produk. Ada tawaran lain? Serobot, ganti ava. Brandingnya jadi gak terbangun.

Contoh kasus:
Kenal Santi gak..? | Santi Sandal? | Bukan.. Santi Herbal..!
>> Hari ini jual herbal, besok jual sandal. Gak nyambung blek.

Kalo dropshipper sering gonta ganti KATEGORI produk yang berbeda, maka personal branding-nya gak terbangun. Sayang waktu..! Mungkin saja dia bisa jual satu atau dua, tapi sulit untuk besar. Gak percaya? Silakan investigasi.

Dropshipper yaa, bukan reseller..

Meski tidak nyimpan stok, janganlah bermindset “Nothing to Lose” . Hal ini tak menciptakan keterdesakan untuk menjual. Jika ada keuntungan lebih, biasakan simpan stok (terkontrol) untuk produk-produk yang consumable atau yakin bisa jual. Karena saat Anda punya stok, apalagi Anda juga pengguna, keyakinan Anda akan naik dan ada ‘keterdesakan’ untuk menjual.

SUKSES itu seringkali harus dipaksakan, biar dorongannya kuat.
Pepetkan diri Anda, jangan kasih pilihan untuk mundur.

Kalo stoknya gak terjual?
Mindset ‘kalau’ ini memberi alasan bagi kita untuk tidak berani melompat. Toh masih ‘kalau’.

Dulu saat mulai usaha, saya tak punya produk. Begitu ada yang menawarkan 1 macam produk untuk dijual, saya pelajari dengan serius. Karena gak ada pilihan, saya pelajari produk tersebut dengan detail, demo, data, FAQ.

Alhasil, tembus ratusan juta perbulan.

Jadi:
1.Fokus 1 kategori produk.
2.Mindset Bagaimana Harus Laku.
3.Pepetkan dengan STOK.

Paham..?

Yuk praktekkan…



By: Jaya Setiabudi


Artikel lain  dari www.kampungwirausaha.com bisa dibaca di Silent Marketing