Showing posts with label Wirausaha. Show all posts
Showing posts with label Wirausaha. Show all posts

Monday, 5 December 2016

Gazan Azka Ghafara: Zanana Chips


Muda dan tidak mencicipi bangku kuliah bukan halangan untuk sukses. Pada usia 21 tahun, Gazan Azka Ghafara membuktikan bahwa kesuksesan bisa diraih dengan kreativitas dan kerja keras.

Antar Produk Untuk Gali Feedback

Gazan menyadari memiliki semangat kewirausahaan sejak masih duduk di bangku SMA. Sejak berusia 166 tahun, Gazan gemar membaca buku tentang kiat-kiat bisnis dan mengikuti seminar motivasi. Tidak seperti anak muda lain yang hobi bongkar pasang onderdil, Gazan menjual motornya seharga Rp. 3,5 juta untuk mengikuti pelatihan menjadi wirausaha.

Beruntung, keluarganya mendukung tekad Gazan. Bukan sekadar training, Gazan pun terjun langsung. Bisnis pertamanya adalah ayam goreng tulang lunak. Bisnis yang dikerjakan bersama seorang kanwannya itu hanya bertahan 13 bulan. "Kami beralih ke bisnis risoles," katanya.

Ketika berjualan risoles, Gazan dan temannya berhasil membuka tiga cabang dalam waktu beberapa bulan saja. Namun, usahanya juga bangkrut karena sang koki tiba-tiba mengundurkan diri. Resep risoles andalan sang koki pun tidak diwariskan. Akhirnya, bisnisnya mandek. Gazan mengakui terlalu berambisi cepat-cepat membuka cabang baru. "Belum sempat membenahi cabang yang satu, sudah mau buka cabang baru lagi," ujarnya.

Tidak mau kapok, Gazan membuka lagi bisnis baru, yakni keripik pisang rasa. Awalnya, pria yang berulang tahun setiap tanggal 27 Juli itu sedang ingin makan keripik pisang cokelat khas Lampung. Gazan memang sangat menggemari camilan khas Lampung tersebut.

Dia lantas menemukan peluang bisnis baru: menyediakan keripik pisang khas Lampung tanpa perlu jauh-jauh pergi ke Lampung. Modal awalnya hanya Rp 1.050.000. Itulah tabungan uang jajan Gazan yang ditambah uang dari tantenya Rp 1 juta. Dengan modal utangan tersebut, Gazan mencoba menggoreng sendiri keripik pisang buatannya. Berkali-kali mencoba, dia sellau gagal mendapatkan rasa yang pas.

"Zanana itu berasal dari nama saya, Gazan, dan banana," ungkap anak kedua di antara empat bersaudara tersebut.

Jumlah keripik pisang yang dia produksi terus bertambah seiring banyaknya permintaan konsumen. Pada bulan pertama, keuntungan yang dia raup hanya cukup untuk ongkos bensin mengantarkan Zanana kepada konsumennya. Gazan, yang mendapatkan motor baru pemberian neneknya sebagai ganti motor yang dijual, sengaja mengirimkan sendiri semua order keripik pisangnya. "Target saya hanya mendapatkan feedback dari konsumen," tuturnya.

Masukan konsumen itu dia jadikan sebagai bagian dari riset pengembangan bisnis.

Usaha Zanana Chips terus berkembang hingga Gazan mampu merekrut karyawan. Kini, dalam sebulan, Gazan mampu memproduksi hingga 25 ribu piece keripik pisang. Produknya juga sudah memiliki berbagai varian, bukan hanya rasa cokelat. Selain pasar domestik, Gazan mempunyai reseller di beberapa negara seperti Singapura, Malaysia, Jepang, dan Mesir.

Selain menjadi pengusaha keripik pisang, Gazan kini aktif menjadi pembicara di seminar-seminar kewirausahaan dan dosen tamu.
 
Bulan lalu gazan juga memenangi kompetisi wirausaha Diplomat Success Challenge dan berhasil menggondol modal usaha Rp 500 juta. "Tahun lalu yang menang kompetisi itu orangnya S-3 di Jerman. Saya juga S-3 sih, tapi SD, SMP, dan SMA," candanya.

Tak Boleh Salahkan Orang Lain

Berbisnis keripik pisang seperti yang dilakoni Gazan bukannya tanpa kendala. Awalnya, Gazan menemui kesulitan dalam proses produksi. Keripik pisang yang sudah digoreng tidak mau menyatu dengan cokelat bubuk yang dia bubuhkan.

Gazan juga sempat kesulitan mendapat pasokan pisang saat Ramadan dan Idul Fitri. Bukan hanya itu, Gazan juga sempat bermasalah dengan supplier dan distributor. "Harga semua pelajaran" yang didapat dari peristiwa-peristiwa itu puluhan juta rupiah. Namun, lesson learned yang dia dapat dari dinamika bisnis tersebut membuat kedewasaan bisnis Gazan makin tertempa.

Pengusaha itu tidak boleh menyalahkan orang lain. Harus fokus kepada apa yang kurang pada diri sendiri supaya dia bisa terus belajar," katanya.

Semakin pesat pertumbuhan bisnisnya, Gazan pun mulai menggandeng pengusahha lokal untuk berkolaborasi dalam marketing. Dia, misalnya, menggandeng brand Esgotado untuk membuat produk tas bermotif pisang.

Gazan juga menggandeng brand Stereo Desserts untuk membuat rasa pisang. Kontribusi produk hasil kolaborasi terhadap omzet Zanana Chips memang tidak signifikan. Namun, dia mendapat brand awareness dari konsumen.

Gazan kini berupaya memperluas market ke luar negeri. Hingga kini, dia sudah mendapat pesanan dari Singapura, Malaysia, Brunei Darussalam, Australia, Selandia Baru, Tiongkok, dan AS. Namun, konsumennya masih bersifat personal.

"Tahun depan kami ingin ekspor keripik pisang ke sana karena sudah ada permintaan dari buyer. Kami juga berencana membuka kafe yang menjual beragam olahan pisang," tutur Gazan.

Dia juga berupaya membenahi sektor hulu, yakni pasokan pisang. Dalam waktu lima tahun, Gazan menargetkan mempunyai pabrik dan perkebunan pisang sendiri. "Sekarang masih fokus ke hilirnya yang lebih cepat mendatangkan keuntungan," ujar suami Silma Syahiida tersebut.

sumber: Jawa Pos, Senin 5 Desember 2016

Sunday, 4 December 2016

Bisnis Tas Kulit Lokal Gammara


Sejak kecil, saya, Aditya Lugina (28) sudah akrab melihat koleksi tas kulit ayah saya. Ayah memang pencinta tas kulit. Saya ‘ketularan’ menyukai tas kulit dari Ayah yang memang punya ‘sense’ pada desain unik. Pada tahun 2010, saat masih sibuk dengan kuliah saya di jurusan Farmasi Universitas Padjadjaran, Bandung, saya malah mencari informasi untuk mendapatkan bahan kulit yang bagus.
Saat itu saya dibantu kekasih, Anwar Syafrani, yang kini sudah menjadi suami, untuk memilih pabrik penyamakan kulit dengan hasil prima. Kulit yang prima bisa dilihat  dari coraknya yang bagus dan tak ada goresan maupun lubang, sehingga mudah diaplikasikan pada pola desain. Itulah ‘modal’ dasar saya untuk bisa menciptakan produk berkualitas baik. Dengan modal awal Rp2,5 juta, kami pun belanja kulit yang sudah disamak dari pabrik-pabrik pilihan hasil survei di Tangerang, Cianjur, dan Surabaya.

Kami belajar tentang produksi kulit dan bisnis secara autodidak saja. Awalnya, kami belum memiliki mesin dan workshop sendiri sehingga harus menitipkan bahan ke perajin lain. Namun, cara itu cukup berisiko karena mereka juga mengerjakan pesanan orang lain, sehingga kami tak bisa memesan banyak dan tak bisa mengontrol kualitas produk.

Pada tahun 2012, kami memberanikan diri membuka workshop, meski hanya dibantu oleh seorang perajin terbaik. Secara rutin kami meningkatkan keterampilan perajin dengan edukasi tambahan yang kami pelajari dari berbagai sumber. Kini kami memiliki 7 perajin, seorang pengawas produksi, dan asisten. Dengan tim itu, kami bisa memproduksi 250-400 tas dalam sebulan dan rata-rata laku 70 persen. Harga produk tas Gammara sekitar Rp2.500.000.

Untuk pemasaran, kami punya butik di Cigadung, Bandung, lewat media sosial, dan rajin ikut pameran. Gammara paling banyak terjual lewat pameran. Di event ini  juga kami mendapat pembeli dari Taiwan, Dubai, dan Prancis yang sudah menjadi klien kami sejak tahun 2014. Taiwan menjadi negara pertama yang menjual produk kulit Gammara di luar Indonesia. Pesanannya memang tidak banyak, hanya sekitar 2 lusin per bulan. Tapi, kami bangga karena produk kami berhasil memenuhi standar untuk ekspor.

Kunci utama kami dalam memosisikan Gammara di industri kerajinan kulit adalah kualitas dan kerapian. Kualitas bahan baku, mulai dari benang hingga kulit, kami kontrol sesuai standar. Kemudian, untuk membuat produk lebih awet di tangan konsumen, kami selalu mengedukasi mereka secara lisan mengenai cara menyimpan dan merawat produk kulit setelah pembelian. Agar awet, produk kulit tidak boleh dicuci dan perlu diangin-anginkan secara berkala agar tidak berjamur, musuh utama kulit. Berikan lotion khusus untuk menambah kadar kelembapan kulit tas sehingga tidak keras dan kaku. Kami juga menjamin after sales service, seperti perbaikan tali, jahitan, dan ritsleting secara gratis seumur hidup.  

Target pengembangan usaha kami dalam 5 tahun ke depan yaitu menambah kapasitas produksi dan sumber daya manusia agar produk Gammara mudah dijangkau di seluruh wilayah Indonesia. Tantangannya ada pada jasa pengiriman, apalagi produk kami tidak bisa dimampatkan sehingga volumenya besar. Kami masih mencari solusi untuk hal itu.

Tip bisnis:
  • Jangan ragu memasukkan katalog dan company profile ke Dinas Perindustrian dan Perdagangan serta Kementerian Perindustrian atau Kementerian Perdagangan. Ketika ada pelatihan atau pameran yang cocok dengan produk, produk Anda bisa diikutsertakan di dalamnya.
  • Sertakan asal-usul Anda dalam membangun citra dan produk, misal nama Gammara kami ambil dari bahasa Makassar, Sulawesi Selatan, kota asal suami, yang berarti bagus dan indah. Produk-produk Gammara hampir seluruhnya menggunakan nama yang diambil dari daerah yang ada di Sulawesi Selatan, seperti Segeri, Takalar, atau Cenrana. Unsur lokal yang kami selipkan di  tiap produk ternyata membuat pembeli lebih penasaran. Cara ini jadi jembatan untuk membangun relasi yang baik dengan pembeli.

sumber: wanitawirausaha.com

Wednesday, 2 November 2016

Simak Tips Berikut Ketika Kamu Mencari Peluang Usaha


Sudah menjadi rahasia umum bahwa membuka usaha baru bukanlah pekerjaan yang mudah. Pastinya kita akan menemukan kesulitan dalam memulainya. Jangankan memulainya, berpikir untuk memulainya pun kita sudah menemui banyak pikiran mengenai masalah apa yang akan kita temui nanti saat usaha tersebut sudah berjalan; padahal, masalah-masalah tersebut belum tentu kita temui, tergantung dari persiapan dan kegigihan kita sendiri dalam menjalankan usaha tadi.

Lebih buruk lagi pikiran-pikiran yang bersifat negatif ini membuat kita menunda- nunda kita membuka usaha baru sehingga limpahan rejeki yang akan datang kepada kita juga tertunda. Yang paling buruk, kita bahkan mengurungkan niat kita untuk membuka usaha hanya karena membayangkan rintangan-rintangan yang akan kita hadapi nanti.

Situasi ini sangat tidak menguntungkan bagi kita bahkan bisa memberi pengaruh buruk bagi kehidupa ekonomi kita. Alhasil, keadaan tidak berubah atau bahkan bisa menjadi lebih buruk.

Di awal kita membuka usaha, kita pasti tahu banyak hal yang harus kita persiapkan sebelum kita memulai usaha yang kita inginkan. Mulai dari jenis usaha yang ingin kita jalankan, produk unik yang akan kita buat, sumber modal dan lain-lain adalah beberapa hal yang harus kita persiapkan dengan baik agar usaha yang kita nanti akan jalankan dapat berdiri kokoh saat badai menerjang.

Nah, buat kamu yang sedang ingin membuka usaha baru, baik itu usaha sebagai penghasilan utama maupun sebagai penghasilan tambahan, artikel ini akan memberi kamu tips-tips untuk kamu dalam mempersiapkan usaha yang ingin kamu kembangkan.

1. Kenali diri
Usaha yang akan kamu jalani sebaiknya berkaitan dengan sesuatu yang kamu sukai sehingga nantinya kamu bisa menjalani usaha kamu dengan sepenuh hati.
Jangan tergiur dengan usaha-usaha orang lain yang memiliki penghasilan tinggi karena kamu belum tetntu menyukai apa yang kamu lakukan dalam usaha tersebut. Jangan membuka peternakan atau penjualan kucing jika kamu alergi terhadap bulu.
Jelasnya, kamu harus mengetahui apa kelebihan dan kekuranganmu. Kamu juga harus mengetahui apa yang kamu inginkan dan apa yang kamu butuhkan.

2. Selalu aktif dan positif
Satu hal yang perlu ditanamkan baik -baik di dalam benak kita adalah jangan pernah berpikir bahwa sesuatu yang baik tidak akan terjadi hari ini.
Hal itu akan membuat kita menjadi pasif dan malas melakukan sesuatu; mungkin kita hanya bisa menonton televisi atau memperbarui status media sosial kita.
Pastikan kamu memiliki kegiatan-kegiatan positif yang dilakukan setiap harinya. Lebih baik lagi jika kegiatan-kegiatan tersebut berhubungan dengan peluang usaha atau usaha yang ingin kamu jalani.

3. Tambah ilmu, tambah informasi
Di zaman yang sudah canggih ini pastinya kamu tidak akan menemukan keslitan yang berarti dalam mencari informasi; bahkan, kamu bisa mendapat berbagai infomasi hanya dengan bermodal internet yang ada dalam genggaman tangan kamu.
Ya, internet menyediakan banyak sekali informasi yang kita butuhkan dalam menjalani kehidupan kita sehari-hari, termasuk informasi-informasi mengenai usaha yang ingin kita jalani.
Kita bisa menemukan sesuatu yang menginspirasi kita melalui internet.
Manfaatkan akun media sosial yang kamu punya untuk bergabung dalam forum-forum diskusi yang berhubungan dengan usaha kamu karena informasi yang paling akurat adalah informasi yang berasal dari pelaku usaha itu sendiri.
Dengan ini, kamu bisa mempersiapkan dengan matang usaha yang akan dijalani juga menyelesaikan masalah yang mungkin akan kamu temui nanti.

4. Jadi pekerja lepas
Tentunya dalam membuka usaha, kita membutuhkan modal, baik itu dalam jumlah yang sedikit atau banyak. Modal yang paling aman untuk membuka usaha adalah modal yang berasal dari diri sendiri. Kita tidak perlu khawatir jika suatu saat kita mengalami kerugian dan tidak harus terobsesi mengembalikan uang jika kita meminjam modal.
Nah, menjadi pekerja lepas adalah salah satu cara kamu untuk mengumpulkan atau menambah modal usaha. Bahkan, penghasilan kita semakin tinggi jika usaha kita sudah berkembang dan masih tetap menjadi pekerja lepas.

sumber: kompas.co.id

Tuesday, 6 September 2016

Panen Dari Ekskul Pertanian, SMA di Purwakarta dapat Rp. 7 Juta


Siswa di SMAN 1 Campaka Purwakarta berhasil menjual hasil panen hingga Rp 7 juta. Panen tersebut merupakan hasil ekstrakurikuler pertanian di sekolah. Selain itu, praktikum biologi juga langsung dipraktikkan di lahan milik sekolah seluas 4.800 meter. Mereka memperoleh 72 kg mentimun, 8 kg kacang panjang, dan 4 kuintal gabah basah. Hasil panen tersebut langsung dijual siswa.

Ketua OSIS SMAN I Campaka M Naufal Ridwan mengatakan, dari Rp 7 juta yang diperoleh, Rp 4 juta dibelikan padi, kacang panjang, mentimun, serta pupuk. Sisanya Rp 3 juta, merupakan keuntungan. "Keuntungan ini dimasukkan ke kas OSIS untuk infaq bagi siswa yang kurang mampu," ucapnya, Senin (29/8/2016). Naufal menjelaskan, hasil panen hari ini sesuai target. "Yang beli dari mulai guru sampai orang tua siswa yang punya rumah makan. Kita jual mentimun Rp 6.000 per kg," tuturnya.

Kepala SMAN I Campaka Nur Aisyah Jamil menjelaskan, panen ini merupakan bagian dari pembelajaran biologi dan tata boga. Menurut dia, ekstrakurikuler pertanian pun termasuk dalam pembelajaran tersebut sehingga siswa bukan saja mengikuti panen raya tetapi terlibat langsung dalam setiap perkembangan tanaman, mulai dari menanam, merawat, semua dilakukan oleh siswa.
“Mereka dipandu oleh dua orang pembimbing, satu dari guru, satu orang petani wilayah ini yang paham kondisi tanah dan lingkungan sekitar. Mereka secara bersama-sama langsung terjun ke sawah dan ladang," kata dia.

Rencananya, pihak sekolah akan segera memperluas lahan pertanian tersebut dari penjualan hasil panen. Tambahan lahan itu akan digunakan untuk membangun ‘saung literasi’ dan ‘leuit’ (lumbung padi).

Bupati Purwakarta Dedi Mulyadi mengapresiasi sekolah dan OSIS. Menurut Dedi, program ini sebenarnya adalah implementasi nyata dari konsep Pendidikan Berkarakter yang  sudah lama ia terapkan di Purwakarta.
“Siswa jadi sibuk oleh hal produktif semacam ini. Mereka pun mendapat keuntungan dari hasil pertanian, sehari-hari berfikir dan bekerja bagaimana hasil panennya bisa baik bukan main handphone dan keluyuran bawa motor," ujarnya.

sumber: www.kompas.com

Thursday, 30 June 2016

Trik Psikologi Dalam Menentukan Harga

Lakukan trik psikologi ini untuk membuat orang membeli produk Anda.



Menentukan harga adalah hal yang paling membingungkan bagi sebagian pengusaha. Jika harga diturunkan terlalu rendah, risikonya adalah untung sedikit yang didapat. Jika harga ditawarkan terlalu tinggi, risikonya adalah tak ada pembeli.

Menurut Dan Ariely, pakar perilaku ekonomi, jika Anda kesulitan menjual dua produk berharga mahal, pertimbangkan untuk memberikan pilihan ketiga. Majalah Economist pernah melakukan trik ini pada iklan berlangganan mereka.

Dalam iklan disebutkan beberapa biaya berlangganan: $59 untuk langganan online,  $125 untuk langganan edisi cetak, dan $125 untuk paket berlangganan online dan cetak. Hasilnya bisa ditebak, pembaca lebih banyak yang memilih paket ketiga karena menurut persepsi mereka harga tersebut lebih murah ketimbang dua opsi lainnya. (lihat gambar pertama).

Namun bagaimana jika opsi kedua (paket langganan cetak seharga $125) dihilangkan seperti pada gambar kedua? Hasilnya, pembaca lebih memilih paket berlangganan pertama (paket langganan online senilai $59.

Anda mungkin bertanya, lalu kenapa Economist tetap memasang harga paket berlangganan cetak senilai $125 jika tahu tidak akan ada yang membelinya?

Menurut Dan, melalui iklan tersebut Economist sebenarnya sedang mengarahkan agar pembaca membeli paket langganan ketiga. Mereka sengaja mematok harga paket langganan cetak begitu mahal untuk membuat paket langganan ketiga terlihat lebih murah.

Karena secara psikologi, orang akan memilih harga lebih rendah dan berani membayar lebih mahal jika mereka bisa mendapatkan layanan atau produk yang lebih banyak.

Menarik bukan?

sumber: www.wanitawirausaha.com

Thursday, 2 June 2016

Aturan dan Cara Menghitung Harga Jual Produk Anda

Waktunya untuk membuka wawasan wirausaha lagi bersama www.kampungwirausaha.com yang ditulis oleh Dania Setiabudi, kali ini tentang cara menghitung harga jual produk dan berbagai strategi diskon, selamat belajar!

Dalam artikel ini, saya akan menjabarkan secara singkat tentang Komponen HARGA dari sudut pandang Akuntansi untuk BOSS (Business Owner), yang sering kali temen-temen Pengusaha masih banyak yang belum paham. Semoga dengan membaca artikel ini temen-temen akan makin paham.

1. Harga RETAIL

Harga Retail terbentuk dari Profit (Nett Profit atau Laba Bersih) ditambah dengan Total Cost (Biaya Total). Besarnya Profit sangat variatif. Masing-masing bidang bisnis, segmen, berbeda-beda. Bahkan nilai BRAND/MERK ikut berperan dalam menentukan Profit.

2. Biaya Total

Biaya Total adalah hasil dari penjumlahan Biaya Marketing & Distribusi ditambah dengan HPP.
Biaya Marketing dan Distribusi ini terdiri dari berbagai alokasi dana untuk promosi, event, dll.. Termasuk KOMISI PENJUALAN. Biasanya temen-temen pemain bisnis Online mendapatkan alokasi keuntungan dari sini. Besaran komisi untuk Reseller “yang menarik” biasanya di atas 30% dari harga retail.

3. HPP (Harga Pokok Produksi)

HPP merupakan akumulasi dari Biaya Langsung/Pokok dengan Biaya Tidak Langsung.
Contoh Biaya Tidak Langsung (Indirect Cost) adalah biaya sewa, biaya perawatan mesin, biaya perawatan gedung, alat tulis kantor, dll.

4. Biaya Pokok (Direct Cost)

Yaitu akumulasi dari Biaya Tenaga kerja langsung dan biaya Bahan Baku.
Yang dimaksud dari tenaga kerja langsung adalah tenaga kerja produksi. Trus kalo yang bukan bagian produksi? Biasanya dimasukkan ke dalam pos biaya tenaga kerja tidak langsung atau biaya operasional.
Seperti halnya Direct Labor, Direct Material (atau Bahan Baku), merupakan Biaya Pokok pada sebuah produk.

komponen harga

Trus fixed cost dan variable cost yang mana donk?

Pengertian Fixed Cost adalah Biaya yang selalu dikeluarkan, walaupun tidak ada penjualan. Jika kita memakai sistem karyawan tetap dengan gaji yang tetap, maka biaya ini termasuk Biaya Tetap (Fixed Cost). Sedangkan Variable Cost terjadi jika ada penjualan.
Artikel ini hanya memperlihatkan bagaimana suatu HARGA PRODUK terbentuk. Bukan untuk melihat dari sisi Fixed atau Variable Cost. Juga bukan untuk melihat dari sisi Pajak. Karena, pada prinsipnya, Pengusaha tidak pernah kena pajak, karena pajak sudah DITANGGUNG oleh konsumen.
Mungkin ada yang bertanya.. “Lhaa klo Brand ada di mana?”
Jawab: Ada pada komponen PROFIT. Karena orang membeli karena VALUE/Nilai Benefit barang yang dia terima, termasuk Brand/merk. Ibaratnya.. Obat generik dan obat ber-merk, kandungannya kurang lebih sama, tapi jauh lebih murah, karena tidak ada Brand/Merk yang melekat di dalamnya.

HARGA DISKON

Koq ada “Harga Diskon” di gambar itu yaa?
Naaahh.. Harga Diskon ini hanyalah ilustrasi, jika ada pelanggan-pelanggan yang sudah lama dan/atau penjualan dalam partai besar. Yang biasanya mereka akan NEGO untuk mendapat harga diskon. Berapa banyaknya? Tergantung pada komoditinya. Dan Harga Diskon ini sifatnya hanya insidental, bukan rutinitas. Yang diskon tersebut diambil dari Profit kita. Kecuali barang komoditi primer, seperti sembako, umumnya diskon bisa mencapai 5-10%. Tapi klo sembako, alias komoditi primer, diskonnya sangat sedikit, hanya Nol Koma persentasenya.
Komisi Penjualan untuk reseller sifatnya adalah RUTIN, sehingga harus masuk Post-Post biaya yang rutin.
Sedikit tambahan sharing strategi:

1. Strategi Diskon

Sebaiknya Diskon diambilkan ke budget Biaya Marketing yang berbentuk Barang/Hadiah/gimmick atau menghabiskan sisa stok barang lama. Bisa juga voucher untuk pembelian berikutnya atau kombinasi keduanya. Sehingga tidak mengurangi Profit, bahkan pelanggan merasa SURPRISE, dan akan kembali lagi. Karena PENGALAMAN BERBELANJA akan MENANCAP di Benak Pelanggan.

2. Prinsip PERPUTARAN

Semakin barang tersebut sering dikonsumsi, maka biasanya harga akan semakin rendah. Sebaliknya, barang yang jarang dibeli (dikonsumsi), akan semakin mahal.
Setiap bisnis punya karakteristik sendiri-sendiri. Semakin EXCLUSIVE, harga jualnya semakin tinggi, karena VALUE produknya bukan cuma kebutuhan pokok, tapi juga “menjual EGO”. Sebagai contoh, barang-barang LIMITED EDITION “wajib” dijual lebih mahal. Karena, jika sama harganya, maka akan menurunkan Positioning dari Brand kita.
Sekian dulu.., semoga bermanfaat..
If You hear, You’ll forget..
If You see, You’ll remember..
If You do, You’ll Understand..

Monday, 14 March 2016

Inovasi Bisnis Restoran Suntiang

Dalam bisnis, kreativitas adalah sebuah keharusan. Semua lini manajemen memerlukan terobosan-terobosan yang dapat memberikan andil bagi kemajuan bisnis. Ada sebuah cerita menarik di balik menjamurnya  'warung' masakan padang modern yang ternyata menyimpan bebagai inovasi yang dapat menjadi referensi bisnis anda, salah satunya kisah Restoran Suntiang sebagaimana dikutip dari www.wanitawirausaha.com berikut.

Dalam budaya Minang, suntiang merupakan  mahkota yang dikenakan oleh mempelai wanita di pesta pernikahan. Suntiang ini memiliki filosofi adanya perkawinan. Filosofi inilah yang digunakan Reza Pradikta untuk membangun Restoran Suntiang, restoran Padang modern, bersama Gemala Rinaldi (istri) dan Puti Longgeni (adik ipar), pada tahun 2013 lalu.

Menurut Reza, ide mengawinkan masakan Minang dan Jepang ini muncul ketika dirinya mengamati banyak warga Jakarta yang gemar   masakan Jepang. “Perhatikan saja, rata-rata restoran yang menyajikan menu masakan Jepang selalu terisi penuh,” ujarnya. Di sisi lain, masyarakat Jakarta juga sudah akrab dengan masakan Padang. “Dari situlah muncul ide untuk mengumpulkan penggemar kuliner Jepang dan Padang. Apalagi, kami juga sama-sama keturunan Padang.”

Sejak pertama kali berdiri, Reza sudah menerapkan strategi matang untuk bisnis restonya ini. Suntiang hadir di mal dengan alasan agar dekat dengan target konsumen yang merupakan kalangan kelas menengah ke atas. Konsep restorannya juga lebih modern dan nyaman. “Semua menu di Suntiang, dasarnya tetap masakan Padang, namun dipresentasikan dengan teknik penyajian ala Jepang,” ujar Reza.


Salah satu menu andalan Suntiang, Rendang Roll, merupakan sushi dengan isi daging rendang dan baluran saus mayo. Ada juga Beef Enoki Saus Balado, yaitu grilled rolled beef campuran jamur enoki Jepang dengan siraman mayones rasa balado. “Kami juga memiliki Ramen Cabe Hijau, yaitu ramen dengan kuah campuran cabai hijau khas masakan Padang. Untuk appetizer, Suntiang memiliki Edamamme Balado,  kedelai Jepang dengan baluran bumbu balado,” jelas Reza.

Untuk menciptakan suasana restoran Jepang, dihadirkan sushi bar dan memasang lagu-lagu Minang untuk mendekatkan konsumen dengan akar budaya Minang. Keunikan inilah yang membuat Suntiang berbeda dari restoran Padang modern yang belakangan ini marak.

Meski secara konsep berbeda dengan restoran Padang modern lainnya, Suntiang tetap menghadapi tantangan. Yaitu bagaimana menjaga agar cita rasa masakan khas Padang tetap terasa di lidah konsumen, meski tampilannya ala masakan Jepang. “Kami bersama-sama dengan para chef banyak melakukan uji coba menu,” tutur Reza.

Selain hadir lewat konsep restoran modern di Setiabudi One dan Grand Indonesia, Suntiang juga hadir dengan konsep Suntiang Express di Mal Ambassador. Kehadiran Suntiang Express ini untuk menjaring konsumen kelas menengah ke bawah, karena itu kami hadir di foodcourt dengan harga yang lebih rendah.

Wednesday, 9 December 2015

Bisnis Artisan: Sebuah Oase di Tengah Ketamakan Produk Massal

Pada dasarnya manusia adalah makhluk kreatif. 
Manusia membuat bentuk dari materi atau bahan di mana mereka mewujudkan jati diri mereka ke dalam apa yang mereka buat. 
Dalam masyarakat prakapitalis, manusia menjadi utuh ketika mereka menciptakan barang untuk mereka pakai sendiri atau mereka pertukarkan secara adil 
(Marx, Karl; Economis and Philosophical Manuscript, 1844)


Revolusi industri yang pada awalnya berkembang di Inggris dan menjalar dengan cepat di seluruh Eropa dan seluruh dunia pada akhirnya, telah banyak merubah struktur ekonomi masyarakat. Pada awalnya manusia menciptakan produk untuk sekedar memenuhi kebutuhan atau barter dengan produk lain, menjadi sebuah struktur organisasi yang menciptakan produk massal dengan tujuan mengumpulkan modal (kapital) sebesar-besarnya. Di tengah-tengah kepungan keinginan menumpuk modal tersebut, akhir-akhir ini di Indonesia bermunculan pengusaha yang menekuni bisnis artisan. Apa itu bisnis artisan? Berikut adalah dua artikel yang menginspirasi dari wanitawirausaha.femina.co.id:

Berasal dari bahasa Prancis, artisan berarti seorang pekerja yang sangat ahli di bidangnya dan membuat satu produk dengan tangan. Meski sedang menjadi tren, pebisnis tidak bisa dengan mudah mencantumkan kata ‘artisan’ dalam bisnisnya. Kata ini rupanya memiliki arti yang jauh lebih bermakna dari sekadar ‘handmade’.


Ayu Larasati: Ayu Larasati Ceramics


Ayu membangun Ayu Larasati Ceramics karena ketertarikannya pada unsur keramik saat kuliah di jurusan Industrial Design di Toronto, Kanada. “Saat itu saya harus membuat mangkuk,” ujarnya. Sejak itu ia semakin mendalami bisnis artisan dengan menciptakan beragam produk keramik.

Bagi Ayu, bisnis artisan memiliki arti yang berbeda-beda. “Artisanal craft dengan artisanal food misalnya, memiliki arti yang tidak sama,” jelasnya. “Saya meyakini artisanal craft adalah barang yang memiliki kualitas bagus, dibuat dengan tangan, dan tidak melewati proses pembuatan seperti di pabrik konvensional yang  tiap hari mengirim banyak containers produk.”

Sempat bekerja sebagai product designer  di satu perusahaan di Toronto, Kanada, selama tiga tahun, Ayu selanjutnya semakin mendalami teknik pembuatan keramik dengan mengikuti pelatihan kelas malam. “Dari sini saya menyadari bahwa untuk bisa menguasai pembuatan keramik yang bagus, kita harus membuatnya dengan tangan sendiri.”

Tahun 2013, ia kembali ke Indonesia dan mulai membangun studio sendiri, menyusul suami yang telah lebih dulu mengembangkan bisnis di Tanah Air. “Kebetulan indie artist seperti saya di Jakarta jumlahnya tidak banyak dan dianggap sebagai satu hal yang baru, walaupun sebenarnya tidak,” katanya.

Ayu mengaku produk keramik yang dibuatnya tak jauh berbeda dengan benda-benda keramik yang umumnya dipakai sehari-hari. “Hanya,  pembuatan benda tersebut lebih thoughtful,” tuturnya. “Untuk menciptakan suatu produk, saya memasukkan sebagian dari diri saya pada benda yang saya buat.”
Menurut Ayu, tiap craftsman pun memiliki ‘suara’  atau karakter sendiri. “Saat ini contohnya saya sedang melatih seorang craftsman untuk membantu saya membuat keramik. Saya mentransfer ilmu dengan pendekatan personal,” katanya. Sekalipun ia nanti bisa menguasai teknik yang diajarkan,   menurut Ayu, tentu hasil karya setiap craftsman akan memiliki karakter dan suara sendiri.

Sejauh ini, selain memasarkan produk secara online, Ayu juga mengisi stok di The Good Things In Life dan Dia.Lo.Gue di Jakarta, plus Buro di Bali. “Saya mengerjakan pula banyak custom products, seperti pesanan piring untuk beberapa coffee shop,” jelasnya. Ayu mengaku sangat selektif dalam memilih klien. “Kebanyakan klien di Indonesia suka mendikte perajin dan kami diharapkan mengerjakan sesuai keinginan klien tanpa bisa memberi saran.”

Namun itu bagi Ayu bukan menjadi penghalang melainkan tantangan.

“Jujur saja, bisnis seperti ini sulit untuk besar, but I like to keep it small. Arti sukses kan berbeda untuk  tiap orang,” katanya. “Saya   tidak menilai kesuksesan semata-mata dari segi uang. Seberapa banyak pesanan yang saya ambil tergantung dari kemampuan saya mengerjakannya dengan perasaan senang karena saya juga harus menyeimbangkan pekerjaan dengan kehidupan pribadi. Being burn out is the last thing I want to do. Selama saya bisa menggaji staf dan makan dari keuntungan bisnis, bagi saya sudah cukup.”


Talita Setyadi: BEAU


Wanita ini semakin jatuh cinta ke bisnis pastry dan cuisine setelah mengambil sekolah khusus di Paris dan memenangkan lomba di kota tersebut. “Saya berani menamakan makanan saya artisan karena saya bertanggung jawab sepenuhnya atas bahan-bahan yang ada di dalam  tiap makanan yang saya jual,” tegas Talita Setyadi, pemilik merek Roti dan pastry BEAU.

“Saat kembali ke Indonesia, saya merasa prihatin dengan kualitas roti dan pastry yang dijual di berbagai bakery.,” kenang Talita. Menurutnya, banyak roti dan pastry di Indonesia  memakai pengawet dan pewarna yang berbahaya. “Saya ngeri melihat Rainbow Cake ada di mana-mana, padahal setahu saya untuk menghasilkan pewarna biru harus memakai campuran minyak tanah.”

Sayangnya, kata Talita, BPPOM di sini tidak ketat, sementara konsumen tidak tahu bahwa zat-zat kimiawi dalam makanan bisa menyebabkan ADHD (attention deficit hyperactivity disorder) pada anak-anak. 

Talita sudah tinggal di luar negri sejak usia 9 tahun, wajar jika mengenal betul standar bakery di luar negeri, bahwa semua roti yang dijual hanya bisa bertahan satu hari. “Saya mencoba menerapkan standar tersebut di Jakarta. Saya memulai dengan menggoreng donat sendiri, lalu menjualnya di Common Grounds dengan nama Bombos,” ujarnya. Melalui promosi di media sosial, produk yang ia jual banyak dilirik pembeli.

April 2015, Talita membuka gerai bakery pertamanya di Plaza Indonesia dengan label BEAU. Selang 3 bulan kemudian ia membuka gerai kedua di Grand Indonesia. “Untuk ini, saya harus berinvestasi cukup besar membuat dapur di kawasan Radio Dalam,” katanya.  

Tidak seperti kebanyakan bakery yang membeli bahan dasar roti dalam bentuk beku baru dipanggang sendiri, semua roti dan pastry yang dimasak Talita terbuat dari bahan-bahan mentah. Ini merupakan cara ia mengontrol semua bahan yang digunakan dalam setiap makanan yang ia jual.
 
Talita mengkalim jika semua produk BEAU sama sekali tidak menggunakan zat pewarna atau pengawet. “Setahu saya, BEAU merupakan satu-satunya bakery di Indonesia saat ini yang tidak memakai zat pengembang,” tutur Talita. Semua roti dan pastry dimasak dan dijual pada hari yang sama. “Karena itu, konsumen saya kebanyakan adalah mereka yang pernah tinggal di luar negeri dan cosmopolitan couple yang menyadari pentingnya hidup sehat.”

Tiap pagi ia mensuplai  ke kedua gerai tersebut dan beberapa kafe langganan, seperti Common Grounds dan The Goods Dept dari dapur. "Semua sisa makanan pada hari itu yang tidak laku kami sumbangkan ke panti asuhan," jelas talita. "Tiap malam ada Go-jek yang menjemput sisa makanan dan mengantarkannya ke  salah satu dari delapan panti asuhan yang bekerja sama dengan saya."
    
Tak harus dengan tangan
Banyak yang salah kaprah menganggap bahwa produk artisan harus dibuat dengan tangan, padahal, menurut Talita,  dalam membuat roti tidak mungkin jika tidak menggunakan mixer. “Saya sangat memperhatikan semua produk saya sampai ke sisi ramah lingkungan,” ujar Talita. “Saya tidak memakai margarin karena mengandung palm oil yang penanamannya bisa merusak lingkungan.”

BEAU terus berinovasi menggunakan bahan-bahan lokal. seperti kelapa, asam jawa, ubi ungu, dan jeruk limau yang jarang ditemukan di bakery lain. Ada pula pastry rasa daun pandan, wijen, dan gula jawa yang tidak hanya menghasilkan warna yang cantik, tapi juga rasa yang lebih gurih.

 “Saya justru berharap  makin banyak bakery lokal yang menerapkan standar seperti kami,” tutur Talita. “Kita harus mau meningkatkan standar seperti di luar negeri. Karena bila tidak demikian, Indonesia akan sulit maju.”  
Meeta Fauzan : Label Busana Muslim
Awalnya Meeta hanya mengisi waktu luang saat cuti kuliah karena melahirkan, ketika dia memulai bisnis fashion rumahan. Dia memulainya dengan menerima jahitan dari rekan dan keluarganya. “Usaha jahitan ini kemudian berkembang menjadi butik dengan pakaian yang saya ambil dari Hong Kong,” ungkapnya.

Usaha ini bertahan lama, apalagi Meta juga mendalami fashion design, sehingga pesanan bajunya pun mulai bertambah. Beberapa pelanggannya beranggapan bahwa menjahitkan pakaian di tempat Meeta akan mendapatkan hasil yang terbaik. Begitu pula dengan pakaian yang dijual di butiknya, selalu eksklusif dan tidak dapat ditemukan di butik kebanyakan.

Perubahan itu terjadi ketika Meeta pulang dari ibadah haji, pada tahun 2003. Saat itu ada panggilan kuat dalam dirinya untuk memulai usaha busana muslim. “Saya mulai melihat-lihat model busana muslim yang ada dan meminta penjahit saya untuk membuatnya,” jelas Meeta, tentang sejarah lahirnya label busana muslim Meeta Fauzan.
 
Lambat laun, butik yang tadinya menjual beragam busana kini hanya menjual busana muslim dan perlengkapannya. Sejalan dengan berubahnya arah bisnis, Meeta pun kembali mempelajari lebih dalam tentang busana muslim agar ia bisa lebih mengerti selera pasar dan membuat busana muslim melebihi ekspektasi masyarakat.

Meski di awal memulai bisnis Meeta masih mencari-cari jati diri,  tak butuh waktu lama baginya untuk menemukan pijakan yang tepat, “Saya memilih   membidik pangsa pasar  wanita dewasa, sehingga busana muslim yang saya buat cocok untuk dipakai bekerja atau ke pesta,” jelasnya.
 
Kiprah butik Meeta Fauzan dari Bandung rupanya terdeteksi oleh pencinta fashion, apalagi di tengah perkembangan bisnis modest wear yang kian menggeliat. Meeta kemudian diajak untuk mengikuti beberapa fashion show, baik di dalam maupun di luar negeri. Salah satu prestasi yang pernah dicapainya adalah mengikuti tim INA Goes to Europe, sebuah pameran produk Indonesia di negara Austria, Praha, dan Budapest.
 
Keikutsertaan Meeta di berbagai fashion show tentu saja membawa lonjakan pada permintaan busana muslim rancangannya. Namun, Meeta tetap pada prinsipnya, tidak mau memproduksi busana secara besar-besaran. “Saya ingin busana muslim yang saya jual tidak pasaran, sehingga orang tidak khawatir mendapati orang lain memakai pakaian yang sama,” jelas wanita lulusan Universitas Parahyangan ini. 
Butik Meeta kini menjadi incaran para wanita  yang ingin tampil modis dengan busana muslim, baik ke pesta ataupun ke kantor. Banyak yang beranggapan bahwa busana rancangan Meeta termasuk premium, meski Meeta sebetulnya tidak memosisikan dirinya sebagai desainer dengan produk premium.
 

Monday, 21 September 2015

Berbuatlah Yang Terbaik, Kesuksesan Akan Mengikuti


Prinsip untuk selalu menjadi yang terbaik menjadi modal Kasan meraih impiannya. Sejak duduk di bangku sekolah, Kasan rajin menorehkan prestasinya. Begitu dalam dunia kerja, dia tetap memegang teguh prinsip tersebut sehingga mengantarnya menjadi salah satu pengusaha sukses.   
Karena suka berhitung, Kasan sudah memancangkan cita-cita menjadi insinyur sejak kecil. Impian itulah yang terus mendorong semangat belajarnya. “Saya selalu mendapat ranking sejak SMP,” kenang pria asal  Kisaran, Sumatra Utara, ini.
Dengan penuh perjuangan Kasan menggapai cita-citanya untuk menjadi seorang insinyur sipil. Sejak Sekolah Menengah Atas, dia rela tinggal di Ibukota seorang diri karena keluarga memutuskan kembali ke Kisaran akibat usaha sang ayah bangkrut.
Begitu pula, saat orangtua tak lagi mengirim uang untuk kuliah, Kasan membiayai sendiri studinya dengan memberi les privat dan mengajukan program beasiswa. “Padahal, saat itu, saya sudah memutuskan berhenti kuliah dan pindah ke Surabaya, tapi ada orangtua teman yang memberi uang untuk biaya satu semester,” tutur Kasan.
Lulus dari Universitas Parahyangan Jurusan Teknik Sipil pada 1995, tawaran pekerjaan berdatangan. Maklum, Kasan berhasil menggondol predikat sebagai lulusan terbaik. Dia pun mengambil salah satu tawaran bekerja pada perusahaan kontraktor umum di Jakarta.
Lima tahun berkarier hingga menduduki posisi sebagai manager proyek, Kasan direkrut oleh anak usaha Grup Djarum, Adiwisesa Mandiri, yang bergerak sebagai penjual keramik. Di sini, Kasan ternyata harus membenahi salah satu divisi usaha perusahaan yang menggarap pemasangan keramik. “Karena banyak manipulasi dan ketidakberesan dalam tubuh perusahaan,” kata Kasan.
Butuh waktu satu bulan bagi Kasan mempelajari persoalan yang terjadi dan mencari solusinya. Dia pun terjun ke lapangan setiap hari. Saat melihat proyek pertamanya, Kasan mendapati hasil kerja pemasangan tidak memuaskan. “Hasilnya berantakan, tidak terlihat rapi hingga pemilik proyek complain,” ujar ayah dua anak ini.
Dari situ, dia menyadari, sebagai aplikator, perusahaannya tak lebih baik dari pemasang keramik umumnya. Lantas, pria 43 tahun ini mencanangkan target menjadi aplikator keramik terbaik di Indonesia.  
Pada proyek kedua, yakni pemasangan keramik di kampus Universitas Moestopo Beragama, Kasan sudah memperbaiki metode pemasangan keramik. Dia pun tak sepenuhnya mau memenuhi metode yang diminta klien. “Saya lebih mengacu pada hasil akhir, sesuai dengan metode yang kami pakai, karena sebagai aplikator kami lebih ahli,” kata Kasan.
Untuk menjamin hasil akhir yang baik, Kasan tiap hari datang ke proyek melihat metode yang diterapkannya dilakukan oleh para tukang. Kerapian dan ketepatan waktu menjadi tolok ukur pekerjaan ini. Pada proyek kedua, hasil pemasangan menuai sukses. Klien pun puas.  
Kualitas jasa aplikator Adiwisesa ini pun cepat tersebar. Proyek-proyek pun menghampiri perusahaannya. Sayang, baru dua tahun bergabung, perusahaan menghentikan jasa pemasangan keramik karena ingin fokus sebagai penjual saja. “Kami mendapat complain dari aplikator lain yang menjadi klien perusahaan karena ada konflik kepentingan,” papar Kasan, yang kemudian memutuskan keluar dari perusahaan.  

Order tak pernah sepi
Namun, sejumlah klien sudah mengetahui kualitas pekerjaan pemasangan keramik oleh Kasan. Tak berselang lama, seorang teman memberi tawaran untuk mendirikan usaha bersama. “Teman saya menyuntik modal, sementara berbekal pengalaman dan tenaga kerja, saya mendapat bagian saham perusahaan 20%,” kata Kasan.
Proyek pertamanya adalah pemasangan keramik seluas 15.000 m2 dari RSUD Cengkareng. Proyek itu diperoleh dari Adhi Karya. “Sebelumnya, mereka melihat hasil pemasangan saya di Moestopo,” kata Kasan. Melihat kualitas pemasangan yang baik, dari satu proyek tersebut, Adhi Karya terus mempercayakan proyek-proyek lainnya.
Lantaran ada perbedaan kepentingan, setelah bekerjasama selama empat tahun, Kasan memutuskan berpisah dengan rekanannya. Dia pun pergi seorang diri, tanpa mengajak satu pun karyawan. Kasan juga memastikan kepada rekannya akan mengambil pasar yang berbeda. “Jika mereka ke kanan, saya ke kiri, jika mereka ke kiri, saya ke kanan. Saya berusaha tidak mengganggu mereka,” kata Kasan.
Setelah tak lama keluar, Kasan kembali mendapat tawaran kerjasama. Kali ini dari teman kuliah yang mengajaknya mendirikan usaha serupa. Lantaran sudah punya uang, Kasan pun ikut menyuntik modal di perusahaan yang didirikannya PT Kontraktor Keramik Indonesia.
Nama Kasan yang sudah terkenal di jasa pemasangan keramik memudahkan langkah bisnisnya. Meski awalnya Kasan menerima pemasangan keramik pada rumah tinggal, dengan cepat, proyek demi proyek pemasangan keramik menghampirinya. Bahkan, hingga delapan tahun KKI beroperasi, order tak pernah sepi.
Kini, KKI lebih banyak menangani proyek aplikasi keramik dengan luas antara 10.000 m2-30.000 m2. Bangunan yang digarap mulai dari gedung perkantoran, apartemen, gedung pameran, rumahsakit dan mal. Sejumlah perusahaan kontraktor besar menjadi kliennya. Sebut saja, Total Bangun Persada, Balfour Beatty Sakti Indonesia, Jaya Obayashi, dan lainnya. Omzet jasanya bisa mencapai puluhan miliar saban tahun.
Terkenal dengan kerapian dan ketepatan waktu, produsen keramik besar pun selalu mempercayakan pekerjaan banyak motif kepadanya. Ke depan, Kasan pun ingin KKI bisa berkiprah di pasar ASEAN. Dia memasang target, hingga tahun 2016, KKI bisa menggarap proyek pemasangan keramik di Thailand dan Vietnam.
 
(sumber: kontan.co.id)

Tuesday, 8 September 2015

Tujuh Langkah Meraih Kemerdekaan Finansial

 (foto: shutterstock)

Sudah 70 tahun Indonesia merdeka. Usia yang sudah renta sebenarnya. Namun rakyat Indonesia yang bisa disebut merdeka secara finansial, ternyata masih terbilang minim. Bahkan, masyarakat kelas menengah pun masih banyak yang belum sampai pada tahap itu. Boro-boro meraih kemerdekaan finansial, sebagian besar belum paham arti kemerdekaan finansial.
Apa yang dimaksud kemerdekaan finansial?
Menurut Eko Endarto, perencana keuangan Financia Consulting kemerdekaan finansial adalah ketika seseorang mencapai tujuan keuangan, yang mencakup setidaknya tiga tujuan yakni dana pendidikan anak, dana pensiun, dan proteksi terlindungi melalui asuransi.
Jadi, saat mereka memerlukan dana untuk keperluan tadi, keuangan mereka secara keseluruhan tidak terganggu. Maka, “Kemerdekaan finansial itu bukan berarti punya uang yang banyak,” tegas Eko.
Eko mengatakan bahwa kemerdekaan finansial bukan berarti ketiga tujuan keuangan tadi, secara nominal, sudah tercapai. “Masih setor dananya secara rutin itu juga sudah bisa dibilang sudah merdeka finansial,” ujarnya.  
Menurut Eko Pratomo, penulis buku Finansial Wisdom pengertian kemerdekaan finansial seringkali diartikan secara kurang tepat. Ada yang berpendapat bahwa kemerdekaan finansial adalah suatu kondisi di mana seseorang sudah punya aset yang memberikan pasive income atau punya kelebihan pendapatan.  “Istilah yang tepat, menurut saya, kemandirian finansial,” kata Eko Pratomo. Sesuai dengan  hukum Pareto, maka baru sekitar 20 persen masyarakat yang mencapai kemandirian finansial, sedangkan sisanya belum.    
Sejauh ini, menurut Eko Pratomo, sebagian besar masyarakat belum sadar bahwa ada kebutuhan di masa depan yang harus disiapkan jauh-jauh hari. “Anak sudah kelas 2 SMA baru kelabakan menyiapkan biaya masuk kuliah, padahal seharusnya sejak anaknya lahir harus sudah disiapkan dana pendidikannya,” jelasnya.
Di antara sebagian kecil masyarakat yang sadar terhadap kebutuhan di masa depan adalah L.Dewi, seorang dokter gigi spesialis yang memiliki klinik sendiri di Yogyakarta. Dokter gigi  ini menuturkan sejak anak pertamanya lahir tahun 2009 ia langsung menyiapkan dana pendidikan melalui produk asuransi pendidikan. “Waktu itu setoran preminya Rp 100.000 per bulan dan tahun depan sudah selesai 17 tahun akan cair dananya,” jelas ibu dua orang putri ini.
Sejak melepaskan status PNS, Dewi sadar harus siap menghadapi aneka risiko finansial. Karena itu, ia memiliki dana darurat di deposito berjangka 1 bulan agar mudah dicairkan jika dibutuhkan. Selain itu Dewi  juga memiliki proteksi asuransi jiwa dan kesehatan. Kini ia merasa sudah mencicipi kemerdekaan finansial. “Kalau saya lebih karena merasa butuh, jadi harus bisa menyisihkan secara rutin,” jelasnya.
Lain halnya dengan yang dialami oleh Pitoyo. Pegawai bank yang tinggal di Jakarta  ini mengaku terlambat dalam menyiapkan kemandirian finansial. “Saya baru sadar itu saat anak pertama masuk sekolah dasar dengan membuat asuransi pendidikan, padahal seharusnya sejak lahir sudah disiapkan,” kata ayah tiga anak ini.
Makanya, saat anak kedua dan ketiga lahir, ia lantas menyiapkan tabungan pendidikan.   Sedang dana darurat ia memilih menempatkan dalam bentuk tabungan. “Dana darurat ini sangat penting dan terasa sekali kebutuhannya saat jumlah anak bertambah,’jelasnya. Dalam waktu dekat ia memilih investasi properti dengan alasan lebih mudah dilihat hasilnya.
Hal penting yang harus disadari dalam menuju kemerdekaan finansial adalah punya pola hidup sesuai dengan besarnya gaji atau penghasilan, sehingga pengeluaran bisa diatur lebih kecil ketimbang penghasilan. “Jangan sampai misalnya gaji Rp 10 juta terus dihabiskan. Setidaknya belanjakan hanya Rp 7 juta,” jelas Eko Pratomo.Sisanya, tentu saja untuk mengangsur kebutuhan masa depan yang harus terpenuhi dengan cara disiapkan jauh-jauh hari pendanaannya.

Tetap konsisten
Apakah Anda ingin mewujudkan kemerdekaan finansial? Agar cita-cita ini bisa dicapai, maka Anda harus disiplin dalam setiap langkah. Secara garis besar ada tujuh langkah yang harus ditempuh dalam meraih kemerdekaan finansial.

1. Identifikasi aset
Langkah ini penting dilakukan untuk mengetahui mana aset yang produktif dan yang kurang produktif. Aset produktif, seperti rumah yang bisa disewakan, tentu bisa menjadi pasive income. Sedang aset yang kurang produktif perlu Anda pikirkan solusinya, agar bisa ditingkatkan menjadi produktif ataukah justru lebih efisien jika dijual. Namun, menurut Eko Endarto, aset ini tidak terlau berpengaruh dibanding utang.

2. Melunasi Utang
Jika Anda memiliki utang konsumtif seperti utang kartu kredit, maka langkah utama sebelum ke langkah selanjutnya adalah melunasi utang terlebih dahulu. Ingat bunga kartu kredit sangat tinggi dan jangan sampai Anda hanya mampu membayar sebatas cicilan minimum. Gunakan kartu kredit sebagai alat pembayaran dan mampu Anda bayar lunas saat tagihan datang di bulan berikutnya. Jangan sekali-kali Anda berpikir bahwa kartu kredit adalah tambahan dana tunai. Risikonya Anda bisa terjebak dalam jeratan tagihan.
Jika Anda memiliki utang seperti KPR maka disarankan total cicilan tidak lebih dari 30% hingga 40 persen dari penghasilan. “Kalau total cicilan sudah di atas 40% penghasilan, maka bisa dipastikan keuangan tidak nyaman karena belum bisa menyisihkan untuk dana pendidikan anak dan dana pensiun.

3. Antisipasi risiko
Sebelum berinvestasi, harap diingat bahwa seluruh hasil investasi bisa sia-sia jika Anda tidak punya proteksi berupa asuransi baik jiwa maupun kesehatan. Eko Endarto menyarankan untuk mengasuransikan terkait prioritas, utamanya adalah pihak dengan  tanggungjawab keuangan besar, bisa suami atau istri atau keduanya jika sama-sama bekerja.
Nah, jika Anda berhubungan dengan agen asuransi yang memberikan ilustrasi proposal produk asuransi, jangan langsung terpaku pada ilustrasi tersebut. Anda yang lebih tahu kebutuhan proteksi yang Anda perlukan.
Ada tip dari Eko yang bisa juga Anda jadikan pedoman dalam mengukur nilai uang pertanggungan yang sesuai dengan kebutuhan Anda. Uang pertanggungan untuk asuransi jiwa setidaknya sebesar 50 kali pengeluaran bulanan Anda. Uang pertanggungan yang ideal adalah 100 kali pengeluaran bulanan Anda.
Asuransi jiwa dibutuhkan untuk kedua orangtua atau setidaknya yang memiliki tanggung jawab keuangan keluarga. Sedang asuransi kesehatan wajib dimiliki seluruh anggota keluarga. Jika Anda ingin setoran premi yang hemat, pilihlah produk asuransi yang dengan satu setoran premi tetapi sudah mencakup asuransi kesehatan untuk suami-istri dan anak-anak.
Sejak program BPJS Kesehatan diluncurkan pemerintah, hampir sebagian besar perusahaan asuransi mengeluarkan produk baru yang menarik untuk Anda pilih secara cermat.

 4. Siapkan dana darurat
Dana darurat adalah dana yang disiapkan untuk hal-hal yang tidak diinginkan atau bila ada kebutuhan mendesak yang harus dipenuhi. Berapakah besaran dana darurat dan sebaiknya disimpan di manakah dana darurat tersebut?
Eko Endarto menyarankan besaran dana darurat minimal adalah 3 kali pengeluaran bulanan. Penempatan dana bisa pada tabungan sebesar 1 kali pengeluaran dan deposito sebesar 2 kali pengeluaran bulanan. Namun jika Anda mampu menyisihkan dana darurat sesuai angka ideal yakni 6 kali pengeluaran bulanan, maka penempatan dana darurat bisa Anda sebar ke tiga atau empat jenis produk keuangan dengan komposisi tabungan 1 kali pengeluaran bulanan, deposito 2 kali, emas atau reksadana pendapatan tetap 3 kali.
Yang patut diingat, jika dana darurat Anda pakai, misalnya guna menambah biaya rumah sakit karena melebihi limit asuransi, maka Anda harus memulai mengumpulkan dana darurat secara bertahap hingga terkumpul jumlah dana semula.
Setiyo Wiwoho, Group Head Consumer Banking Bank Mandiri bilang penempatan dana darurat sebaiknya diatur dengan komposisi 30 persen dalam bentuk tabungan dan sisanya ke deposito berjangka 1 bulan. “Deposito harus ambil yang 1 bulan supaya tidak kena penalti sebesar 0,5 persen, jadi lebih likuid jika hendak ditarik,” ujarnya.
Bunga tabungan saat ini berkisar 0 persen hingga 2 persen. Sedang bunga deposito berkisar 5 persen hingga 7,75 persen. Pilihan penempatan dana darurat lainnya adalah reksadana pasar uang, pencairan dana perlu waktu H+1.

 5. Tetapkan tujuan
Kemerdekaan finansial akan bisa Anda raih dan rasakan saat semua tujuan keuangan Anda tercapai.
Setiap orang tentu memiliki tujuan keuangan sendiri-sendiri sesuai skala prioritas. Anda yang berstatus lajang tentu punya tujuan keuangan berbeda dengan orang yang sudah berkeluarga. Orang yang berkeluarga juga punya jumlah tanggungan yang berbeda-beda. Saat ini, ada sebagai masyarakat yang sering disebut generasi sandwich yakni mereka yang punya tanggungan anak sekaligus harus membantu orangtua dan mertua. Nah, generasi inilah yang memiliki tanggungan paling besar.
Tujuan-tujuan keuangan seperti dana pendidikan, dana pensiun, membeli rumah harus dijabarkan lebih lanjut dan mendetail, misalnya berapa keperluan dananya dan kapan harus terkumpul.
Lalu mengancik langkah berikutnya bagaimana mencapai tujuan keuangan tersebut. Caranya adalah menghitung berapa lama waktu yang tersedia untuk pengumpulan dana, berapa yang harus disisihkan setiap bula. Lantas, sebaiknya ditempatkan pada produk investasi apa agar hasilnya bisa memenuhi target.
Salah satu strategi yang disarankan Eko Pratomo agar setiap keluarga mampu mencapai tujuan keuangan adalah membuat akuntansi di rumah alias budgeting. Anda harus bisa membedakan antara kebutuhan dan keinginan agar mampu menentukan skala prioritas.
Selain itu Anda perlu membekali diri dengan pengetahuan finansial agar tidak salah strategi ataupun salah menempatkan dana.

6. Pilih instrumen investasi
Perkembangan instrumen investasi terus terjadi. Jangan sampai Anda ketinggalan informasi jika hendak meraih kemerdekaan finansial.
Tapi, jangan juga terjebak investasi bodong karena tergiur iming-iming imbal hasil tinggi.  “Jangan berinvestasi pada produk yang Anda tidak kenal,” ujar Michael Tjoajadi, Direktur PT Schroder Invesment Management Indonesia. Bahkan, Michael juga menyarankan, Anda harus benar-benar mengenal profil emiten, jika ingin berinvestasi di pasar modal. Kalau tidak, sebaiknya Anda berinvestasi lewat reksadana saham.
Memilih instrumen investasi memang harus disesuaikan dengan profil risiko Anda sebagai investor. Ada tiga jenis investor yakni konservatif, moderat dan agresif.
Nah, tergolong tipe investor apakah Anda? Jika Anda masih terbilang konservatif, maka sebaiknya memilih instrumen investasi dengan tingkat risiko paling kecil. Namun konsekuensinya adalah imbal hasil investasi yang bakal Anda peroleh juga lebih kecil ketimbang portofolio investasi lain.
Sebaliknya jika masih berusia muda dan terhitung investor agresif, maka Anda bisa memilih instrumen dengan tingkat risiko tinggi, tetapi  memberikan imbal hasil investasi yang juga tinggi, seperti saham atau reksadana saham.
Dalam memilih instrumen investasi jika sudah memiliki pengetahuan finansial yang cukup, misal informasi dari buku, koran, internet, maka Anda bisa melakukan sendiri pemilihan instrumen investasi baik jenis investasinya maupun pemilihan produknya.
Namun jika Anda masih ragu terhadap kemampuan dan pengetahuan terhadap produk investasi, Anda dapat menggunakan jasa perencana keuangan untuk membantu dalam memilih produk investasi yang tepat sesuai profil dan risiko yang berani Anda tanggung.
Ingat prinsip berinvestasi pasti semua ada risikonya. Hal yang bisa Anda lakukan adalah bagaimana meminimalkan dan menghadapi risiko tersebut.
Anda bisa menyisihkan dana investasi secara bertahap, atau menjajal portofolio sesuai pilihan. Nanti, seiring dengan pengalaman berinvestasi, maka intuisi Anda sebagai investor akan terlatih.

7. Berinvestasi
Langkah ketujuh inilah yang menjadi penentu Anda dalam meraih kemerdekaan finansial. Aksi Anda berinvestasi secara tepat akan menentukan berapa lama waktu yang Anda butuhkan hingga sampai di titik kemerdekaan finansial.
Kuncinya, menurut sumber-sumber Kontan, jangan mudah panik saat situasi ekonomi agak memburuk seperti sekarang. Lakukan investasi secara rutin dan konsisten sampai tujuan keuangan Anda tercapai.
Selain itu, ingatlah pepatah jangan menaruh telur dalam satu keranjang.  Selamat berinvestasi.

(sumber: kompas.com)