Wednesday, 8 April 2015

Mengatasi Kerutan, Jerawat, dan Mata Panda dengan Masker Kunyit


Apakah anda tahu bahwa ada rating yang memberi skor pada efek antioksidan tanaman? Ya ada, skor Oxygen Radical Absorbance Capacity (ORAC) adalah peringkat yang digunakan untuk mengetahui tingkat kemampuan tanaman dalam menangkal radikal bebas. Dan apakah anda tahu bahwa kunyit menduduki peringkat keempat berdasarkan skor ORAC dari 159.227 tanaman herbal yang kaya antioksidan?
Curcumin, zat hasil ekstraksi kunyit merupakan zat pencegah dan penyembuh yang sangat kuat bagi beberapa jenis penyakit. Dengan kemampuannya untuk menembus dinding sel, curcumin dapat mengatasi kerusakan terdalam akibat dari radikal bebas. Sungguh menakjubkan kemampuan kunyit sebagai anti oksidan, pelembab, anti aging, penyegar, dan anti mikroba bagi kulit. Masker berbahan dasar kunyit efektif dalam mengurangi garis halus dan kerutan. Juga sangat berguna bagi kulit berminyak untuk mengendalikan produksi sebum, substansi minyak yang diproduksi oleh kelenjar sebaceous. Kunyit tidak hanya membuat kulit nampak halus, tetapi juga menutrisi dan meremajakannya.

Bahan yang dibutuhkan:

1 sdt bubuk kunyit
1 sdt yoghurt plain
1sdt madu murni

Cara Penggunaan:

Campurkan semua bahan, aduk hingga membentuk pasta. Aplikasikan pada wajah  selama 20 - 30 menit. Anda dapat menggunakan masker ini 1-2 kali seminggu.

sumber: www.livingtraditionally.com

Monday, 6 April 2015

Kasih Sepanjang Masa

Ada ungkapan yang menyatakan bahwa kasih anak sepanjang galah, kasih orang tua sepanjang masa. Ini mengacu pada tidak terbatasnya kasih yang ditunjukkan oleh orang tua. Hubungan antara orang tua dan anak kebanyakan adalah hubungan yang kuat, tulus, dan tanpa pamrih. Begitu pula dalam dunia binatang, hubungan antara induk dan anaknya sangatlah murni dan sudah merupakan naluri  bagi mereka. Berikut adalah potret kasih sayang antara induk dengan anaknya sebagaimana dilansir dari fan page A Different type of Art.











Wednesday, 1 April 2015

Logika Berpikir Yang Terbalik


(gambar: uxrepo.com) 

Entah mengapa saya menuliskan judul itu pada tulisan kali ini. Mungkin karena saya gemas dengan banyaknya komentar "ngawur" dari sejumlah besar pejabat publik yang seharusnya mampu berkomunikasi dan menganalisis permasalahan dengan baik. Salah satu dari "terobosan aneh" yang membuat saya geleng-geleng kepala adalah rencana Menteri Pariwisata, Arief Yahya yang akan mendatangkan guide dari Tiongkok untuk lebih menjaring dan mengantisipasi lonjakan turis Tiongkok sebagai pasar potensial promosi wisata. Dengan mendatangkan guide dari Tiongkok, pemerintah berharap dapat membuat nyaman turis Tiongkok yang melancong ke Indonesia.

Logika berpikir dari mana ini?

Mengapa Kementerian Pariwisata tidak melatih sumber daya manusia lokal kita untuk fasih berbahasa Tiongkok daripada harus mendatangkan tenaga asing yang kemudian dilatih bebagai objek wisata di Indonesia?
Sungguh kebijakan aneh yang semakin mempersempit peluang tenaga kerja Indonesia untuk mencari nafkah di negeri sendiri.

Sedih melihat pengambil kebijakan kita tidak mampu memberdayakan rakyat untuk dapat merubah nasibnya menjadi lebih baik.
Kecewa melihat semakin banyaknya penyelenggara negara melihat permasalahan tidak secara utuh dan menyepelekan dampak dari segala kebijakan yang telah diambil.

Pak Presiden, Pak Wakil Presiden, Anda bukan sekedar kepala keluarga, tapi kepala negara.
Pak Menteri, Bu Menteri, Anda bukan kepala rumah tangga, tapi pengambil kebijakan strategis yang mempengaruhi ratusan juta orang di negeri ini.

Thursday, 26 March 2015

Farkhunda

(foto: nationforchange.com)

Namanya Farkhunda. Sebuah nama yang biasa-biasa saja. Seperti Dewi atau Sri di Indonesia. Namun, nasib yang menimpa perempuan 27 tahun asal Kabul pada Kamis lalu (19/3) membuat nama itu tak akan terlupakan.
Gara-gara dituduh membakar Alquran, perempuan tersebut mengalami kematian mengerikan. Dia dipukul massa dan dijatuhkan dari loteng sebelum ditabrak mobil. Belakangan, diketahui tuduhan itu isapan jempol belaka karena dia berani mempertanyakan pendapat ulama yang dianggapnya tidak sesuai.
Belum cukup itu. Setelah tak berdaya, dia masih saja ditendang dan dipukuli massa sampai meninggal. Jasadnya kemudian dibakar sebelum dibuang ke sungai. Pemerintah Afghanistan langsung mengutuk tindakan barbar tersebut. Dunia pun mengutuk aksi itu. Kita semua mengutuknya dan memang tindakan sadis tersebut layak dikutuk.
Namun dunia tak lantas menjadi lebih baik setelah mengutuk. Pangkal permasalahan tersebut ada pada sikap ekstremisme. Itulah yang menjadi sumber kekacauan. Farkhunda mungkin bisa dianggap tak sopan dengan mempertanyakan pendapat seorang ulama lokal. Namun, menjaga ajaran dengan besi dan pedang ternyata menimbulkan masalah yang lebih besar.
Penulis Umberto Eco dalam novelnya, The Name of The Rose, pernah menyebut, kejahatan bisa datang dari kesalehan. Itu tidak berarti salah menjadi orang saleh. Namun, sikap menganggap semua orang yang berbeda pandangan sebagai musuh hanya akan membuat dunia semakin terbelah.
Indonesia sudah menunjukkan bibit-bibit semacam itu. Dengan alasan menjaga akidah, sejumlah kelompok justru melakukan kekerasan terhadap kelompok lain. Secara terang-terangan. Meski skalanya berbeda, esensinya sama. Itu tentu menyedihkan.Semakin canggih peradaban, namun pertentangan antar keyakinan justru makin mudah terbakar.
Pertentangan Sunni-Syiah yang membuat kawasan Timur Tengah sekarang menjadi titik panas: ISIS dan 36 keompok militan, termasuk Boko Haram, yang telah berbaiat; serta kelompok antiekstremisme agama yang justru menjadi ekstremis sendiri seperti PEGIDA di Jerman membuat dunia kini seperti kembali ke abad pertengahan. Terbelah-belah karena keyakinan dan siap berperang.
Sungguh saat ini dibutuhkan kesadaran sebagaimana yang pernah dikatakan Gus Mus. "Setiap cercaan atau hinaan terhadap akidah tidak akan merusak Islam. Yang merusak Islam justru reaksi yang berlebihan." Harus diingat bahwa Tuhan hanya satu. Dan, kenapa kita harus berperang di satu bumi demi satu Tuhan.

(sumber: kolom Jati Diri Jawa Pos Jumat, 27 Maret 2015)

Monday, 23 March 2015

Peyek Kepiting: Semangat Inovasi Yang Memberi Rejeki

(gambar: oleholehetam.com)




Peyek, makanan ringan sejenis keripik khas masyarakat Jawa sangat digemari lapisan masyarakat. Namun siapa sangka, dari peyek yang diramu dengan kreativitas tinggi, bisa menjadi barang bernilai tambah dan menguntungkan.

Salah satu orang yang mengembangkan bisnis peyek adalah Filsa Budi Ambia. Pria 29 tahun itu justru mampu meraup omzet Rp 165 juta/bulan dari bisnis peyek.

"Alhamdulillah, sekarang omzet per bulan Rp 165 juta," kata Filsa pada acara Penjurian Nasional Program Wirausaha Mandiri 2014, di Gedung Wisma Mandiri Club, Jalan Mataram Jakarta Selatan, Selasa (10/3/2015).

Filsa saat ini memang sedang menekuni bisnis peyek kepiting. Pria asli Banyumas yang lama tinggal di Balikpapan ini memadukan keahlian membuat peyek, dengan populasi kepiting yang cukup banyak di Balikpapan, Kalimantan Timur.

"Saya ingin peyek ini naik kelas. Lalu saya pikir nilai tambahnya apa, dengan kemasan biasa tentu nggak cocok. Di Kalimantan itu banyak kepiting, saya pikir tes dulu, lalu penggunaan bumbu saya akurasi dan dikemas menarik lalu diberi ke teman-teman," paparnya.

Filsa memulai bisnis barunya itu Februari 2013. Saat itu ia hanya mengolah 1 kg daging kepiting untuk menghasilkan 20 pcs peyek kepiting. Siapa sangka ini awal pintu masuk Filsa menjadi wirausahawan sukses.

"Dari modal Rp 75.000 itu akhirnya banyak yang pesan. Harganya ada yang Rp 20.000/pcs dan ada Rp 10.000/pcs, akhirnya dapat omzet Rp 150.000," paparnya.
Pengembangan bisnis dari hari ke hari terus dilakukan Filsa. Saat ini rutinitas Filsa memproduksi peyek kepiting 2.000 pcs per hari dari 40 kg kepiting yang diolah. Berkat jerih payahnya, Filsa sudah memiliki 21 pegawai.

"Produk saya sudah dijual di toko oleh-oleh di Kalimantan Timur, ritel modern seperti hipermarket. Lalu hubungan dagang partnership dengan distributor di Jakarta. Dari Sumatera, Kalimantan, Jawa, Sulawesi produk saya ada," tuturnya.

Kesuksesan yang diraih Filsa dalam menekuni bisnis peyek kepiting tidak membuat sombong. Filsa mengaku pernah hidup susah dari bekerja menjadi sopir, tertipu bisnis gelap, hingga sampai menjual cincin pernikahannya.

"Tahun 2007 saya merantau ke Balikpapan, bekerja jadi sopir di perusahaan tambang gajinya tidak menutupi untuk hidup kemudian resign tahun 2010 dan buka usaha ayam goreng bangkrut. Kemudian saya coba berbisnis martabak mini franchise sudah memiliki 35 cabang bangkrut juga di tahun 2012," tuturnya.

Pada 2012 Filsa pernah kena tipu investasi Rp 120 juta dan punya utang banyak. Pada waktu itu, dirinya sudah punya anak,

"Anak saya menangis minta susu. Di situ titik balik saya sadar. Cincin kawin akhirnya dilepas dan digadai, uangnya buat beli susu, sama bayar kebutuhan hidup lain. Tinggal Rp 100.000, ini awal mula saya membuat peyek kacang lalu berubah menjadi peyek kepiting," katanya.

(sumber: detik.com)

Friday, 20 March 2015

Pesantren Pemacu Ekonomi Kreatif

Ada pendapat yang mengatakan bahwa kita tidak akan dapat memperbaiki nasib hanya dengan mengeluh, melangkah, sekecil apapun akan membawa kemajuan bagi kita. Terdapat banyak jalan untuk memajukan ekonomi rakyat sebagaimana ditulis dalam halaman ekonomi harian Jawa Pos edisi cetak berikut ini:

(gambar: ppdarussalam.blogspot.com)

Menggerakkan perekonomian masyarakat dapat dimulai dari banyaknya jumlah pesantren di Jawa Timur (Jatim). Caranya adalah mengoptimalkan pendidikan enterpreneur.
Penasihat Yayasan Pesantren Agrobisnis dan Agroindustri Mukmin Mandiri Karyanto Wibowo menyatakan, sudah banyak pesantren berfokus pada satu produk, perekonomian daerah akan terkerek. Sebab, ketersediaan sumber daya manusia yang terdidikdan hasil alam berlimpah bakal memuluskan langkah tersebut. 
Mantan direktur Perusahaan Daerah (PD) Pasar Surya itu menyebutkan, saat ini pesantrennya memproduksi 25 ton kopi per bulan. Jumlah tersebut belum maksimal dari ketersediaan yang ada. "Sejauh ini kami baru memasarkan di Jatim saja" katanya.
Selain pasar Jatim, Karyanto akan membidik bisnis kreatif model inkubator. Dia menjelaskan bahwa potensi anak muda yang hobi minum kopi menjadi peluang besar. Pihaknya akan memberi pendampingan dan modal kerja, termasuk menyediakan bahan baku. Dengan demikian, pihaknya turut mengentaskan persoalan pengangguran.
Karyanto menambahkan terkait dengan penetrasi pasar, pihaknya masih butuh proses, terutama dari sisi promosi. Dia berharap program inkubator akan memperluas pasarnya. Karyanto juga optimistis cara itu dapat merangkul anak muda untuk membantu pemerintah dalam menggerakkan industri ekonomi kreatif.

(sumber: Harian Jawa Pos, Jumat 20 Maret 2015)

Tuesday, 17 March 2015

Banjirnya Di Mana Ya?



Disadari atau tidak, kualitas hidup seseorang ditentukan oleh cara berpikirnya sendiri. Ini yang ditegaskan kembali oleh Rhenald Khasali dalam tulisan "Banjirnya Di Mana Ya?" yang dimuat dalam harian online Kompas. Berikut tulisan lengkapnya:

Senin 9 Februari 2015, hujan yang tak henti dari malam sebelumnya membuat genangan air hebat di hampir semua bagian ibukota. Air mencari jalan, berebut dengan kendaraan. Ribuan orang tertahan di jalan, dan seabrek lukisan tentang banjir ibukota beredar di media sosial.

Hari itu sulit saya lupakan, karena malamnya saya sudah punya agenda penting: merayakan anniversary pernikahan ke-26 bersama keluarga dalam bentuk makan malam di Jakarta. Batal!

Tetapi esoknya cuaca mendung perlahan-lahan beralih menjadi terang. Air mulai surut. Pagi hari saya mengajar di kampus UI Depok, di luar dugaan hampir semua mahasiswa hadir. Jalan pun tak macet-macet amat. Jam 11 saya beranjak dari kampus menuju Jalan Merdeka Selatan.

Sejak pagi saya sudah minta supir agar terus memantau perkembangan. Radio, TV, social media, dan sms ia pantau sepanjang pagi. Kesimpulannya, Jakarta telah berubah menjadi danau raksasa. Ia pun kebingungan, hampir semua jalan tergenang banjir.

Akhirnya kami putuskan lewat Cimanggis, terus menembus Jembatan Semanggi-Thamrin. Di perjalanan saya bertanya beberapa kali: Banjirnya di mana? Ia pun kebingungan. Beberapa nama lokasi yang disebut banjir, saat dilewati tak tampak genangan air sedikitpun.

Tidak pernah saya duga, hari Selasa itu dari Depok saya hanya butuh waktu 25 menit untuk sampai di Jembatan Semanggi. Ketika saya ceritakan di Twitter ada follower yang dongkol. Mustahal, katanya.

Ya, mustahil karena di saat normal, minimal satu setengah jam. Rekan saya yang datang dari arah Ciputat bahkan sudah lebih dulu sampai di Merdeka Selatan. “Supirnya ngebut, cuma 20 menit sampai, ujarnya.”

Semua Kegiatan Batal

Tetapi, sesampainya di Bundaran Hotel Indonesia saya menerima  kabar pertemuan penting di dekat istana hari itu dibatalkan. Kabarnya banyak orang yang tak masuk. Mereka semua terheran-heran begitu mendengar kabar dari saya jalan begitu lengang, genangan air tidak ada.

Dapat dikatakan, hampir semua orang Jakarta percaya ibukota tengah dikepung air bah besar. Wajar kalau semua membatalkan kegiatan.

Ibarat petinju yang swing ya gagal, di sebuah apartemen di jalan Jenderal Sudirman Jakarta saya pun duduk lunglai di depan pesawat televisi. Semua channel berita saya buka, ternyata isinya semua tentang berita banjir. Demikian juga kicauan di group Whatsapp. Seorang teman memposting berita tentang posko siaga banjir.

Iseng-iseng saya menanyakan semua teman yang sedang berada di jalan tentang kondisi lalu lintas. Ternyata laporan mereka berbeda dengan berita tivi. Bahkan rute bandara – menuju ke tengah kota Jakarta juga aman.

Tetapi, sebagian yang lain masih melakukan hal serupa: mem-posting berita dari berbagai media tentang tingginya air di lokasi-lokasi yang maaf, keadaan di lapangan telah berubah.

Tak percaya dengan perbedaan informasi itu, saya pun keliling ibukota. Saya lewati pusat-pusat kebanjiran yang selalu menjadi perhatian. Di Kampung Melayu saya berhenti di atas jembatan dan melongok ke dalam aliran sungai. Ajaib: airnya rendah.

Kalau Kampung Melayu aman, rasanya Kampung Pulo yang langganan banjir pun aman.

Tetapi ketika hal itu saya sampaikan pada teman-teman, hanya sebagian orang yang percaya, selebihnya mempercayai berita dari media massa. Apalagi sebuah media dotcom berpengaruh hari itu menurunkan liputan kemarin: Jakarta Dikepung Banjir.

Saya pun menyimpulkan: ini pasti siaran ulang. Persis seperti berita tentang badai salju yang menimpa Boston belum lama ini. Media massa lokal menyiarkan kabar bencana itu selama beberapa hari. Padahal badai itu telah berlalu, dan Boston sudah berangsur normal kembali.

Tetapi ini Jakarta loh, beritanya juga untuk orang Jakarta. Berapa jauh sih jarak antara kita dengan kejadian? Harusnya kita bisa cepat melakukan up date. Namun gara-gara berita itu, kolega-kolega saya dari mancanegara ikut gelisah. Mereka mengirim pesan-pesan empati, seolah-olah Jakarta sudah dikepung bencana nasional.

Karena semua kegiatan batal, saya pun iseng memposting pengamatan lapangan itu melalui Twitter. Saya mendapat dua respons yang berbeda: yang percaya dan yang menentang.

Kelompok yang pertama adalah mereka yang melihat sendiri keadaan di ibukota. Mereka sependapat dengan saya. Kelompok satunya, seperti biasa, bukan hanya membantah, melainkan mengungkapkan sumpah serapah, mengata-ngatai secara negatif, dan mengirimkan berita-berita tentang banjir dari berbagai media.

Setelah saya baca, postingan-postingan negatif itu didasarkan foto-foto dan berita yang terjadi pada hari Senin, persis ketika Jakarta benar-benar dikepung banjir dan dikirim oleh mereka yang selalu menulis pesan-pesan negatif. Padahal, Selasa siang matahari sudah kembali tersenyum, laut pun tidak sedang pasang, sungai-sungai begitu cepat surut. Genangan tersisa di daerah berbentuk cekungan yang airnya selalu terperangkap. Kalau tak dipompa keluar, air-air itu tetap akan menggenang di sana.

Itulah sifat air, selalu berjalan menuju area yang rendah. Bila dulunya ia adalah rawa-rawa resapan air, seperti di area Kelapa Gading dan Grogol, atau di kolong-kolong jembatan dan daerah yang berbentuk cawan (depan SD Tarakanita Jalan Tendean atau jalan Bank di Kebayoran) maka air akan kembali berteduh di sana.

Di Balik Awan Gelap Ada Matahari

Kejadian ini menyisakan pertanyaan, mengapa kita melebih-lebihkan kabar tentang banjir?  Pertanyaan saya, apakah bedanya banjir dengan genangan air sepertinya sulit dijawab mereka yang senang menyebarkan berita buruk.

Saya jadi teringat hal ini.  Di sebuah sekolah bisnis saya pernah memajang sebuah kutipan yang saya adaptasi dari Leonard Levinson, “Seorang pesimis adalah orang yang tak bisa melihat indahnya matahari di balik awan yang gelap.”

Ya, kalimat itu saya tujukan kepada anak-anak muda (dan juga para guru) yang selalu menyuarakan kesusahan masa lalu, segala musibah yang sudah berlalu yang seakan-akan ada terus hingga hari ini.

Maaf, bukannya saya tak percaya banjir telah terjadi. Bukan pula saya tak berempati terhadap para korban. Tetapi kita harus bersyukur pula ketika Tuhan telah mengirimkan mentari yang tersenyum dan orang-orang yang telah bekerja keras memompa air ke gorong-gorong yang membawanya ke laut.

Mendengar pengalaman itu, seorang teman berbagi cerita tentang dua anak yang diberi hadiah besar oleh ayahnya. Yang satu kamarnya diberi hadiah penuh mainan. Anak pertama itu membanting pintu karena menduga “pasti ayah ada maunya dengan memberi hadiah sebanyak itu.” Sebaliknya, anak kedua diberi, maaf, sebongkah besar tahi kuda.

Begitu melihat tahi kuda sebesar itu, anak kedua meloncat kegirangan. “Terimakasih ayah, itu pasti kuda Pony yang kau berikan.”

Kata teman saya yang lain, “susah juga ya memberi hadiah yang pas bagi orang yang sudah nyaman hidupnya.”  Jadi maunya apa dong? Tahi kuda atau mainan yang banyak?

Tetapi baiklah, bukankah setiap musibah itu adalah hadiah penting yang disampaikan Tuhan agar kita melakukan change?

Namun begini.

Hari ini bukanlah pengulangan dari yang kemarin, dan berita ulangan bukanlah berita hari ini. Kita syukuri bahwa kita masih diberi waktu untuk melihat indahnya pelangi. Orang optimis melihat pelangi, sedangkan yang pesimis hanya bisa melihat awan yang gelap?

Bila esok banjir kembali datang, kita harus lebih siap menghadapinya, bukan terus mengutuk dan saling menyalahkan. Dan bila ia telah pergi kita pun siap menyambut hari-hari yang cerah.